LPM Gema Keadilan Gelar Seminar Nasional

Anggota International Media Lawyer Association, Hendrayana (kiri), memaparkan kasus pelanggaran asas praduga tak bersalah oleh media dalam seminar nasional yang diselenggarakan LPM Gema Keadilan Fakultas Hukum Undip, di Aula Teknik Sipil, Minggu (16/11). (Kalista/Manunggal)


ManunggalCybernews – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Gema Keadilan Fakultas Hukum Undip, menggelar seminar nasional bertajuk Menegakkan Kebebasan Pers dan Implementasi Asas Praduga Tak Bersalah di Aula Teknik Sipil Undip, Minggu (16/11).

Acara ini menghadirkan Zulfiani Lubis Anggota Dewan Pers 2010-2013, Hendrayana Anggota International Media Lawyer Association, dan Inu Kencana penulis buku IPDN Undercover sebagai pembicara.

Zulfiani Lubis, dalam materinya menerangkan, media perlu menerapkan asas praduga tak bersalah. Praduga tak bersalah muncul setelah adanya verifikasi dari narasumber yang terpercaya, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Media harus mampu menyeimbangkan antara kebebasan pers dan asas praduga tak bersalah. Ia juga memaparkan penggunaan media sosial untuk mempercepat penyebaran berita online.

Selanjutnya, Hendrayana menjelaskan, pers tidak memiliki wewenang untuk menyatakan seseorang bersalah atau tidak. Pada suatu persidangan, pers hanya berwenang untuk menyajikan hasil persidangan atau keterangan dari penyidik. Pemuatan identitas dalam berita juga harus dilakukan dengan cermat oleh media.

Pada penghujung acara, Inu Kencana mengisahkan perjuangannya untuk mengungkap kekerasan yang terjadi di Institut Pemerintah Dalam Negeri (IPDN). Ia adalah whisterblower, yang berhasil menghentikan kekerasan pada sistem pendidikan di IPDN.

Ketua panitia acara, Faris Zakiy berharap, acara ini dapat dijadikan sebagai evaluasi bagi media agar tetap memegang asas praduga tak bersalah dan menyeimbangkannya dengan kebebasan pers.

“Semoga materi yang kita angkat pada seminar ini tidak percuma, dan bisa diterapkan di kehidupan nyata,” kata Faris. (Kalista/Manunggal)