Lampion Meninggi, Rezeki Menghampiri

Langit sore itu begitu mencekam. Tidak seperti biasanya, langit menandakan dirinya siap menumpahkan muatan partikel airnya ke bumi. Dengan kondisi demikian, Joko, pemulung asal Ambarawa, sudah berada dalam kondisi siap untuk berangkat ke Semarang. Perjalanan kali itu cukup jauh. Namun, demi tercapainya asa, Joko tidak gentar dengan segala risiko yang mendatanginya. Demi sesuap nasi, Joko melangkah dengan pasti sore itu. Selang beberapa menit kemudian, hujan mulai turun dengan derasnya dari langit.

Hari mulai gelap, jalanan ibu kota Semarang makin padat dengan deru mesin motor warga. Pergerakan massa mobil dan sepeda motor malam itu terkonsentrasi pada satu titik di tengah kota. Seperti yang diketahui Joko hari Jumat silam, Semarang akan mengadakan festival warga memperingati hari raya Waisak. Warga mulai memadati bantaran kanal kota untuk menikmati indahnya Sabtu malam yang berbeda dari biasanya. Festival Banjir Kanal Barat (FBKB) 2014 memang menjadi primadona warga ibu kota hari itu. Hujan deras yang baru saja berhenti mengguyur tanah kota seolah menjadi pembuka kran keramaian warga.

Tidak perlu waktu lama bagi Joko untuk mulai bekerja. Joko telah tiba di kanal tepat setelah hujan berhenti beriringan dengan makin bertambahnya jumlah kepala yang memadati kanal barat kota Semarang. Sebagai pemulung, dengan bermodalkan kain karung, sarung tangan, topi hitam, dan pengait sampah, Joko mulai menyelinap di antara kemacetan lalu lintas.

Salah satu titik favorit Joko adalah bantaran kanal dan panggung utama tempat acara berlangsung. Pengunjung yang malam itu hadir bersama keluarga lebih memilih bantaran sungai sebagai tempat utama karena lebih dekat aksesnya dengan tempat parkir. Adapun panggung utama merupakan titik nol kegiatan yang tentu memiliki daya tarik lebih besar bagi pengunjung untuk merapat ke sana. Bagi Joko, konsentrasi warga adalah ladang rezeki baginya. Di mana ada konsentrasi warga, di sana ada tumpukan sampah yang siap untuk diangkut.

Malam makin gelap dan udara lembab mulai terasa di hidung Joko. Panggung utama dan bantaran sungai telah dipadati oleh kurang lebih ribuan warga Semarang yang mencari sedikit ruang untuk melepas penat pada kepenatan lainnya. Baru satu jam berjalan, karung Joko telah terisi penuh oleh botol-botol minuman yang terbuat dari plastik. Botol-botol plastik adalah primadona bagi pemulung. Cara memperolehnya mudah. Dijual pun mudah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Joko telah menyiapkan amunisi berupa kain karung tambahan di saku belakang celananya.

Joko menyusuri bantaran kanal dengan menyelinap di antara kerumunan warga yang duduk nyaman pada tebing-tebing kanal. Dengan sigap Joko meluncur turun ke bibir kanal untuk mengeruk botol plastik yang berserakan. Perahu-perahu hias dengan lampu-lampu menawan sesekali mencuri perhatian Joko. Joko kadang berhenti sejenak untuk mencermati situasi unik di tengah kanal ketika kapal-kapal mulai menyangkut di substrat karena air malam itu terlalu dangkal untuk dilalui kapal. Sebagai suara latar terdengar ekspresi kegirangan warga melihat kapal yang tersangkut. Joko ikut tertawa.

Kain karung kedua telah terisi penuh oleh materi yang sama. Joko memutuskan untuk istirahat sejenak di tebing kanal. Sambil mengisap sebatang kretek lusuh dari sakunya, Joko mulai menikmati pemandangan langit malam itu.

Sekitar pukul 21.00 WIB langit dipenuhi oleh ribuan lampion yang mulai mengudara. Bukanlah pemandangan yang dapat dinikmati setiap harinya. Joko bersama puluhan ribu warga kota takjub dengan penampakan tersebut. Joko bersyukur, rezeki baik menghampirinya malam itu. Tidak seperti biasanya, kali ini Joko mendapat jatah dua kali lipat lebih banyak dari hari-hari biasanya. Hal itu cukup membuat Joko berbangga hati untuk menyambung hidup keesokan hari. (iqbal, zulfa, kalista, faiz, anis, fuad)