Kurangi Sampah Botol Plastik, Tim 2 KKN Undip Desa Jatiroto Adakan Pelatihan Hidroponik Sederhana

(Dok. Istimewa)

Minuman kemasan, khususnya berbentuk botol merupakan salah satu minuman favorit mayoritas orang. Selain lebih mudah dan nyaman dibawa karena tidak memenuhi banyak tempat, botol tersebut bisa langsung dibuang begitu habis. Akan tetapi, sampah botol plastik ini justru membawa pencemaran lingkungan karena sulit terurai dan apabila dibakar akan menimbulkan polusi yang mana tidak sehat bagi tubuh.

Warga Desa Jatiroto, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati merupakan salah satu dari golongan masyarakat yang langsung membakar sampah botol plastik bersamaan dengan jenis sampah lainnya. Kepala Desa Jatiroto, Muhammad Eko Wahyudi mengungkapkan bahwa tingkah laku masyarakat desa yang langsung membakar sampah tanpa memilah sampah terlebih dulu disebabkan karena belum adanya tempat penampungan sampah dan pelatihan pemanfaatan limbah rumah tangga, seperti botol plastik. “(red, Sampah) langsung dibakar di belakang rumah. Ya karena belum ada tempat penampungan sampah. Selain itu juga belum ada sosialisasi ataupun pelatihan pemanfaatan limbah rumah tangga, jadi masyarakat langsung bakar sampah begitu penuh,” ungkapnya.

Hidroponik merupakan salah satu sistem pertanian yang menggunakan air sebagai media untuk tumbuh. Selama ini pemikiran masyarakat tentang hidroponik selalu dikaitkan dengan instalasi pipa dan biaya yang mahal padahal sistem pertanian ini dapat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan memanfaatkan limbah rumah tangga, seperti botol plastik.

Program kerja pemanfaatan botol plastik bekas sebagai media hidroponik sederhana tanaman sayuran ini disambut baik oleh Eko karena selain dapat mengurangi sampah plastik juga dapat menarik minat generasi muda untuk bertani. “Program ini (red, hidroponik) yang saya tunggu. Selama ini mindset anak muda tentang pertanian kan kotor, penuh lumpur. Jadi, perlu adanya pelatihan di bidang pertanian yang bisa mengubah pemikiran mereka kalau pertanian tidak selalu kotor dan penuh lumpur,” ujar Eko saat ditemui di kediamannya.

(Dok. Istimewa)

Ada pun alat dan bahan yang diperlukan dalam melakukan hidroponik sederhana, di antaranya botol plastik bekas, kain flanel, nampan, cutter, rockwool, benih sayuran, nutrisi AB mix, dan air. Pelatihan hidroponik sederhana dilakukan sebanyak dua kali, yaitu Minggu (28/7) dan Sabtu (3/8) di rumah Ketua Kelompok Tani  Sitirejo 1, Sarmijan. Pelatihan pertama berfokus pada pengenalan hidroponik ke anggota Kelompok Tani Sitirejo dan mempraktikkan persemaian secara hidroponik, sedangkan pada pelatihan kedua berfokus pada pemindahan bibit siap tanam hasil persemaian ke botol plastik bekas.

            Antusiasme anggota kelompok tani terlihat dari pertanyaan yang diajukan selama pelatihan berlangsung. Harapannya, antusiasme ini dapat bertahan dan berkelanjutan sehingga selain dapat mengurangi jumlah sampah botol plastik, adanya program ini dapat meningkatkan pundi-pundi penghasilan petani melalui kebun hidroponik.

Amalia Nur Intan Pratama

Agribisnis 2016