Kuburan, Sabun Cuci Tangan Anti Bakteri dari Kulit Rambutan

TIm PKM-K sabun cuci tangan Kuburan. (Dok. Pribadi)

TIm PKM-K sabun cuci tangan Kuburan. (Dok. Pribadi)

ManunggalCybernews—Mahasiswa Undip tidak berhenti menciptakan inovasi baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Kali ini, lima mahasiswa dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) yaitu Bintari Fajar Kurnianingtyas, Aisyah, Siti Rohmawati, Gana Malinda Putri, dan Lirih Setyorini membuat sabun cuci tangan anti bakteri dari kulit buah rambutan yang disebut Kuburan, akronim dari Kulit buah rambutan anti bakteri. Sabun cuci tangan ini merupakan salah satu Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) yang akan ikut berlaga di Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) ke-28 pada Oktober mendatang.

Tim ini mengangkat salah satu program pemerintah, yaitu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sebagai latar belakang pembuatan sabun cuci tangan. Mereka melihat bahwa saat ini kesadaran unuk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan masih rendah. Bahkan, cara mencuci tangan yang dilakukan pun tidak selalu benar. Padahal, di dalam PHBS, ada poin yang menyebutkan anjuran untuk mencuci tangan dengan memakai sabun. Sebagian orang memang memilih memakai hand sanitizer, namun produk tersebut mengandung banyak alkohol dan tidak ramah lingkungan.

Ide pembuatan sabun cuci tangan ini mulai muncul sejak tim mereka tahu bahwa di dalam kulit rambutan ada kandungan saponin yang berfungsi sebagai antibakteri, serta tanin dan polifenol yang berguna sebagai antioksidan.

“Terus kita juga tahu bahwa ternyata saponin ini sifatnya berbusa dan pahit. Jadi, kita tinggal mengganti bahan pembersih bakteri yang ada pada sabun dengan ekstrak kulit rambutan. Bahan-bahan lain kebanyakan sama, tapi kami berusaha membuat produk ramah lingkungan, misalnya dengan memakai NaCl (Natrium Chlorida) sebagai zat pengental,” kata Bintari, ketua tim.

Proses pembuatan sabun cuci tangan Kuburan diawali dengan membuat ekstrak kulit rambutan yang banyak didapat dari masyarakat sekitar Tembalang, lalu mencampurkannya dengan texapon, NaCl, dan air dengan kadar tertentu. Setelah itu, campuran tersebut didiamkan semalam, kemudian ditambahkan dengan pewarna dan pewangi.

Terkait penamaan sabun cuci ini, Bintari mengaku bahwa sempat ada gejolak pro dan kontra sebelum akhirnya seluruh anggota tim setuju. “Kuburan biasanya dianalogikan sebagai tempat peristirahatan terakhir, nah di sabun ini kami menganalogikan Kuburan sebagai sabun yang dapat membunuh bakteri dengan cepat,” ujarmya.

Bintari melanjutkan, sabun cuci tangan yang penjualannya telah mencapai 210 buah ini telah teruji laboratorium dapat mengurangi bakteri hingga 85%. Selain itu, pengemasan produk dibuat portabel, yaitu ukuran 30ml, sehingga mudah dibawa ke mana-mana.

“Kami masih ingin produksi lagi, tapi buah rambutan kan musiman. Kami masih mencari cara agar kulit rambutannya awet, misalnya dengan mengeringkan kulit rambutannya. Jadi, ketika bukan musimnya nanti, kami tetap bisa produktif,” harap Bintari. (Ayu, Lilis/Manunggal)