Kresendo, Ubah Bahan Bekas Jadi Benda Bermelodi

(Dok.Istimewa)

Barang bekas kerap dianggap sampah bagi sebagian orang, namun hal tersebut tidak berlaku bagi grup Kresendo Kaliwungu. Di tangan kreatifnya, mereka mengubah barang bekas menjadi benda yang menghasilkan melodi.

Kaliwungu terkenal dengan sebutan kota santri karena pada kecamatan tersebut terdapat  banyak pondok perantren dan situs-situs religi. Terlepas dari itu, terdapat hal yang unik di daerah Kaliwungu, kabupaten Kendal tersebut, yaitu adanya sebuah komunitas yang memanfaatkan barang bekas menjadi sebuah alat kesenian. Adalah Dram Bloeng, komunitas yang mengadopsi dram band dan marching band. Dibandingkan dengan nama Dram Bloeng, mereka lebih dikenal dengan nama Kresendo, yaitu Kreativitas Kampung Pesantren Dram Bloeng.

Alat musik yang digunakan Kresendo terbuat dari bahan yang sederhana serta barang-barang tak terpakai, seperti ember bekas dan galon air mineral. Kemudian, barang-barang tersebut dimodifikasi dan dimainkan dengan alat-alat musik pada umumnya, sehingga menghasilkan melodi jika dimainkan secara bersama-sama. Selain menggunakan alat musik yang unik, para anggota Kresendo juga kerap mengenakan kostum yang mengundang perhatian penonton dalam penampilannya, salah satu contohnya adalah dengan berdandan seperti badut. Anak-anak yang melihat pertunjukan Kresendo selalu antusias dan terhibur dengan penampilannya.

Komponen utama alat musik kresendo adalah alat perkusi dan melodi, serta aransemen lagu yang membuat penampilannya menjadi semakin apik. Biasanya Kresendo mengaransemen lagu-lagu yang sedang populer di kalangan masyarakat, kemudian dikombinasikan  dengan ciri khas musik Kresendo. Kresendo biasanya mengaransemen beberapa lagu dan digabungkan menjadi satu sehingga membentuk warna musik baru. Selain itu, dalam beberapa penampilannya Kresendo juga mengiringi tari-tari jawa atau tarian lainnya.

Kresendo terbentuk pada tahun 2000-an dengan nama komunitas Dram Bloeng Kampung Pesantren Kaliwungu, namun nama tersebut berganti menjadi Kresendo pada tanggal 21 juli 2010.  Anggota yang masih aktif untuk sekarang ini sekitar 25 orang. Seluruh anggotanya adalah warga Kaliwungu dan latihannya diadakan setiap seminggu sekali. Akan tetapi, dari awal terbentuknya Kresendo sampai sekarang jumlah anggotanya masih tetap. Hal tersebut  dikarenakan kurangnya SDM serta kurangnya minat bergabung dengan Kresendo karena banyak pemuda yang memilih bekerja, sekolah dan kuliah ketimbang mempelajari atau belajar kebudayaan tradisional.

Kresendo sering membawakan lagu-lagu tradisional, menurut mereka hal tersebut merupakan wujud pelestarian terhadap kebudayaan tradisional di Indonesia yang mulai tergantikan dengan  budaya-budaya barat. “Anak muda sekarang lebih suka budaya luar negeri ketimbang kebudayaan sendiri dan yang paling memperihatinkan ketika orang tua lebih suka anaknya berbicara menggunakan bahasa Indonesia ketimbang memakai bahasa Jawa yang merupakan bahasa asli Pulau Jawa,” ungkap Teguh Eko Kurniawan, ketua Kresendo.

Kresendo banyak mengisi acara seperti karnaval, diantaranya dalam rangka Haflah di Kaliwungu dan Kabupaten Kendal, festival Lima Gunung di Magelang, serta Festifal Payung Indonesia. Tak jarang juga Kresendo mendapatkan berbagai penghargaan seperti juara 3 karnaval tingkat kecamatan, juara 1 dan 2 Gus Alam Cup tahun 2015-2016, dan juara Tradisional Culture dari Pemuda Pancasila. Dari berbagai penghargaan itulah nama Kresendo cukup banyak dikenal.

Kemajuan jaman memang tidak dapat dipungkiri perkembangannya, akan tetapi Kresendo berharap bisa menjadi sebuah komunitas budaya yang terus eksis diantara kebudayaan-kebudayaan modern. Selain itu kresendo berkeinginan untuk dapat tampil di kancah nasional bahkan internasional. (Ika/Manunggal)