Konflik UKT Lagi: Aksi Online hingga Menggaungnya #UndipKokJahatSih

Sumber: ilustrasi manunggal

Warta Utama— Melalui Surat Edaran Nomor 149/UN7.P/HK/2020, Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama menetapakan daftar Uang Kuliah Tunggal (UKT) baru bagi mahasiswa baru, Rabu (26/2). Pada daftar biaya kuliah terbaru tersebut terdapat kenaikan yang diklaim oleh rektorat atas pertimbangan adanya inflasi, kenaikan harga, meningkatkan mutu, dan defisit anggaran.

Audiensi bersama Rektor

Meskipun sudah ditetapkan sejak 26 Februari 2020, kebijakan ini baru saja ramai dibicarakan, khususnya oleh mahasiswa Undip. Aliansi Suara Mahasiswa melalui BEM Undip telah mengeluarkan enam poin tuntutan penolakan terhadap kenaikan UKT mahasiswa baru 2020 yang disampaikan melalui akun resmi BEM Undip, Rabu (22/4).

Pada keesokan harinya, Kamis (23/4), berhasil dilakukan audiensi antara Rektorat dan Aliansi Suara Mahasiswa. Audiensi yang dihadiri oleh Rektor Undip beserta jajarannya tersebut menghasilkan empat poin terkait bantuan subsidi kuota, kebijakan pelaksanaan kuliah daring, UKT mahasiswa tingkat akhir, dan perihal isu UKT yang secara lengkap dapat diakses melalui bit.ly/Hasilaudiensibarengrektor.

“Iya, lumayan memberikan dampak. Terbukti dengan adanya kajian dan propaganda, dari rektorat akhirnya mau mendengar. Karena sebelumnya rencana audiensi selalu ditunda dan digagalkan. Beberapa dekan fakultas juga akhirnya menghubungi BEM masing-masing. Mahasiswa juga jadi lebih aware kalau ada kenaikan UKT untuk mahasiswa baru dan masalah subsidi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ),” terang Andhika Ketua Bidang Sosial dan Politik BEM UNDIP pada awak Manunggal, Kamis (23/4).

Namun, tampaknya hasil audiensi yang dilakukan tidak menjawab penolakan kenaikan UKT untuk mahasiswa baru. Menyikapi hal tersebut, sejak Jumat (1/5) malam, hingga Sabtu (2/5) ini, jagat media sosial dipenuhi oleh tagar #UndipKokJahatSih dan #UndipNaikUKTLagi. Bukan iseng belaka, tagar tersebut merupakan wujud protes, khususnya dari mahasiswa Undip atas kebijakan yang ada. Dan menariknya, viralnya tagar ini turut mendapat sorotan dari berbagai media regional maupun nasional.

#UndipKokJahatSih vs #UndipBaikHati

Ramainya tagar #UndipKokJahatSih, membuat pihak kampus turut bereakasi. Melalui akun resmi Instagram undip.official memberikan respon berupa unggahan di instagram menggunakan tagar tandingan #UndipBaikHati dan #UndipPeduli. Unggahan tersebut berisi 8 poin pembelaan. “Siapa bilang Undip jahat? Baik lagi. Nih buktinya,” begitulah kutipan yang tercantum pada cover unggahan tersebut.
Sayangnya, unggahan tersebut tidak bertahan lama. Setelah men-take down unggahan tersebut, Undip kembali mengunggah statment terbarunya menggantikan 8 poin pembelaan sebelumnya.

Dikutip dari kumparan.com, Kasubag Humas, Utami Setyowati menjelaskan bahwa Undip justru peduli dengan mahasiswa dengan memberikan bantuan subsidi kuota, sembako, mengadakan magang mahasiswa, hingga keringanan berupa penundaan bahkan pembebasan UKT karena ketidakmampuan finansial akbat pandemi COVID-19.

“Saat pandemi ini, Undip justru peduli dengan melindungi mahasiswa dengan memberikan keringanan bahkan pembebasan UKT sepanjang memenuhi syarat dan ketentuan,” ungkapnya, Sabtu (2/5).

Seruan Aksi Online Mahasiswa

Hingga Sabtu (2/5) sore, seruan aksi daring kembali digaungkan oleh akun derita.diponegoro pada paltform Instagram dan Twitter. Dengan menggunakan twibbon bertuliskan “Saya Kecewa, Pak Rektor!”, beserta tuntutannya. Aksi ini juga sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh tepat pada 2 Mei.

Berikut tuntutan yang kembali disuarakan:

1. Batalkan Kenaikan UKT Mahasiswa Baru.
2. Revisi RKAT dan Distribusikan paket kuota Internet untuk seluruh mahasiswa Undip.
3. Surat Keputusan Rektor bagi mahasiswa tingkat akhir untuk pembebasan pembayaran UKT dan pengembalian UKT.
4. Surat Keputusan Rektor terkait penjaminan Banding UKT dan Pembebasan UKT bagi mahasiswa baru dan lama yang kondisi ekonominya terdampak pandemi Covid-19.
5. Optimalkan website Kulon Undip dan Pertegas peraturan pelaksanaan Kuliah Online.

Reporter : Aslamatur R, Fidya Azzahro
Penulis : Aslamatur R, Fidya Azzahro
Editor : Winda N, Alfiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *