Kompos Terciduk Atasi Pengolahan Sampah Organik

Dokumentasi Istimewa.

Sampah sampai saat ini masih menjadi masalah yang sangat vital di Indonesia. Menurut data Kementrian Lingkungan Hidup (2015), Indonesia menghasilkan ±175.000 ton sampah/hari atau ±64 juta ton sampah/tahun. 60% diantara sampah tersebut adalah sampah organik dari sisa petanian dan rumah tangga yang masih banyak belum dikelola dengan tepat. Salah satu Desa yang pengeolaan sampah organiknya belum tepat adalah di Desa Pule, Kecamatan Mayong, Jepara.

Desa Pule merupakan salah satu Desa di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara yang memiliki jumlah penduduk ±2.800 jiwa yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Jumlah petani di desa ini sebanyak ±746 orang didasari oleh luasnya lahan untuk bercocok tanam. Sebagai salah satu Desa yang jauh dari perkotaan, sarana dan prasarana pengelolaan sampah di Desa Pule masih sangat terbatas. Masyarakat desa terbiasa membuang sampah dan membakar sampah organik bersamaan dengan sampah anorganik di pekarangan rumah. Budaya sikap dan perilaku masyarakat tersebut dipengaruhi oleh tidak tersedianya sarana pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pembuangan akhir di desa tersebut.

Banyaknya sampah yang belum tepat pengolahannya, menyebabkan berbagai fenomena permasalahan baik langsung maupun tidak langsung. Selain menimbulkan bau dan sumber berbagai penyakit menular, sampah juga dapat memudarkan nilai-nilai keindahan desa. Hal ini dikarenakan sistem penanganan sampah di Desa Pule belum mendapat perhatian dari Pemerintah, terbukti belum adanya TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dan petugas pengangkut sampah berkala seperti layaknya sebagian besar Kelurahan di Kabupaten Jepara

Dari permasalahan yang ada, pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk diharapkan dapat menjadi solusi masalah tersebut. Pupuk organik dengan bahan baku dari biomassa atau biasa di sebut kompos terdapat senyawa yang di butuhkan oleh tanaman seperti Nitrogen, Karbon, Hidrogen, Oksigen, Magnesiun, Besi dan kandungan mineral lainnya. Pembuatan kompos cukup sederhana yaitu dengan fermentasi bahan organik di dalam bioreaktor aerobik dengan bantuan mikroorganisme.

Kelebihan dari kompos di bandingkan pupuk sintesis adalah pembuatannya dinilai lebih murah dan ramah lingkungan. Namun, pembuatannya memakan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 1 bulan. Sehingga, perlu penambahan mikroorganisme untuk mempercepat pembuatan kompos. Dari permasalahan tersebut, tim PKM yang terdiri dari Inneke Aulia, Afriyanti, Fahmi Rivaldi, Muhammad Ilham Riyadi, dan Nurlita Sari menggagas kompos ‘Terciduk’ yang memiliki keunggulan di segi ekonomi, efektivitas dan waktu fermentasi yang relatif singkat. Kompos Terciduk menggunakan biostarter yang terbuat dari bahan–bahan alami yang dapat mempersingkat waktu fermentasi. Selain itu, Terciduk dilengkapi dengan bulking agent yang berfungsi menghilangkan bau dari kompos serta menutrisi kompos. Sehingga dengan adanya kompos Terciduk, diharapkan dapat mengatasi pengolahan sampah di Desa Pule. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan kebersihan lingkungan serta memberikan edukasi mengenai pembuatan kompos dan biostarter yang dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Pule.

Oleh :

Fahmi Rivaldi

Mahasiswa Jurusan S1 Teknik Kimia

Fakultas Teknik Angkatan 2015