KMSI Gelar Peringatan Bulan Bahasa

Pembacaan Puisi oleh salah satu anggota Teater Kolam Kodok Komunitas Seni Politeknik Negeri Semarang (Polines) dalam Malam Gairah Bulan Bahasa di Crop Circle pelataran kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip Tembalang, Senin (27/10) malam. (Gina/Manunggal)


ManunggalCybernews – Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (KMSI FIB Undip) menyelenggarakan Malam Gairah Bulan Bahasa, Senin (27/10) di Crop Circle pelataran kampus FIB, Tembalang. Acara ini merupakan momentum puncak peringatan bulan bahasa yang diperingati setiap Oktober. Masih dalam rangkaian peringatan bulan bahasa, sebelumnya, KMSI mengadakan Kenduri Bahasa, Kamis (9/10) dan Kenduri Sastra, Kamis (16/10).

Dosen FIB, Hermintoyo dan Pembantu Dekan Tiga FIB, Mujid Farihul Amin hadir dalam acara ini. Turut hadir pula sastrawan senior Semarang, Djawahir Muhammad. Di tengah acara, pencipta Jembatan Berok itu tampil membacakan tiga puisi karya penyair-penyair ternama Indonesia, antara lain puisi dari Chairil Anwar, Sajak Orang-orang Kelaparan karya WS Rendra, dan kumpulan puisi Amuk dari Sutardji Colzoum Bachri.

Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB ini dibuka dengan Tari Merak yang ditampilkan oleh mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2013. Selanjutnya, acara diisi dengan pembacaan puisi dan cerpen, musikalisasi puisi, serta musik akustik oleh beberapa Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKK) FIB di antaranya, teater Emper Kampoes (Emka), Wadah Musik Sastra (WMS), serta mahasiswa Sastra Indonesia dari berbagai angkatan. Tidak hanya dimeriahkan tuan rumah, hadir pula anggota teater Kolam Kodok Komunitas Seni Politeknik Negeri Semarang (Polines) yang turut membacakan puisi.

Dalam acara ini, diadakan pula lomba musikalisasi puisi yang diikuti mahasiswa lintas jurusan FIB. Di akhir acara, diumumkan nama-nama pemenang lomba puisi dan cerpen FIB yang diselenggarakan September lalu.

Sekretaris pelaksana acara, Annas Chairunnisa Latifah mengungkapkan, acara ini bertujuan memperingati hari lahirnya Bahasa Indonesia yang disepakati pada butir ketiga Sumpah Pemuda.

“Harapannya, masyarakat luas lebih tahu jika Bulan Oktober diperingati sebagai bulan bahasa dan lebih peka terhadap bahasa ibu agar digunakan dengan baik dan benar,” ujarnya.

Hermintoyo, dosen sekaligus juri dalam perlombaan peringatan bulan bahasa menambahkan, bulan bahasa merupakan salah satu momen yang penting bagi mahasiswa sastra. Melalui peringatan bulan bahasa ini, setidaknya mahasiswa sastra mempunyai rasa memiliki Bahasa Indonesia.

“Jika kita bicara tentang bahasa, bukan hanya bicara tentang bahasa verbal saja, tetapi juga sastra. Salah satu identitas sastra juga lewat bahasa,” tuturnya.

Hermin mengimbau, peringatan ini seharusnya bukan hanya milik mahasiswa, melainkan juga para pengajar yang bergiat di bidang kebahasaan. (Gina/Manunggal).