KKL, Kuliah Karo Liburan

Jika Einstein mengatakan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman, maka selayaknya satu-satunya pengalaman tersebut adalah situasi di mana kita dapat berinteraksi secara langsung dengan objek yang kita amati. Dengan demikian, wajar apabila orang-orang berpikiran bahwa praktik akan jauh lebih “menghasilkan” daripada teori. Sesingkat apapun praktiknya  dan sebagus apapun teorinya.

Universitas Diponegoro telah mengubah arah geraknya untuk menjadi sebuah lembaga penelitian terkemuka di Indonesia yang sejalan dengan kebutuhan research dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan di rezim ekonomi global sekarang ini. Banyak perubahan dilakukan dan banyak peraturan baru bermunculan. Namun di luar hal itu, ada satu pakem yang tak tergerus perubahan-perubahan tersebut, yakni pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL).

Mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan muara dari beberapa materi perkuliahan yang telah diperoleh mahasiswa. Secara umum, manfaat pembelajaranKuliah Kerja Lapangan (KKL) adalah sebagai berikut.

  1. Mempelajari secara langsung penerapan kegiatan pembelajaran baik di dalam maupun luar negeri, sehingga mahasiswadapat mengambil contoh dari praktik yang dilakukan.
  2. Melatih kepekaan tanggapan mahasiswa terhadap isu-isu dan fenomena yang terjadi di lapangan, serta mampu mengambil manfaatnya untuk kepentingan lebih lanjut.

Saya telah melaksanakan KKL bersama teman-teman seangkatan saya bulan April lalu. Dapat dikatakan bahwa KKL adalah bentuk yang dapat dilipat seperti mainan kertas dan diterbangkan seringan angin. Hal ini seperti sebuah ritual yang dinantikan oleh semua mahasiswa yang belum pernah melaksanakannya, karena kesan yang diperoleh dari cerita kakak tingkat yang sudah pernah melaksanakan KKL akan jauh dari hal-hal yang tidak menyenangkan. KKL sudah dianggap sebagai kegiatan refreshing yang dapat melepaskan sejenak dari hiruk-pikuk perkuliahan, sergapan tugas-tugas akademik, serta urusan lain. Mirip dengan study tour waktu SD dan sekolah menengah, hanya perbedaannya adalah pengawasan yang sudah banyak berkurang dari guru (dosen).

Bagi saya, mustahil untuk menampik pendapat bahwa KKL adalah elemen penting dari sebuah rantai perkuliahan. Namun, tak mungkin juga untuk melepaskan KKL dari kesan “senang-senang” para mahasiswa, mengingat kerja keras selama persiapannya dan iuran yang dikeluarkan dalam jumlah yang pastinya tak sedikit. Hampir semua mahasiswa pasti ingin rasa lelah dan penat mereka terbayar tuntas saat pelaksanaan KKL. Seperti pengalaman KKL saya sendiri, sebelum pelaksanaan KKL (kurang lebih 2 bulan sebelum Hari-H), ada sebuah ingar bingar yang meriah untuk menyambut pelaksanaan KKL. Persiapan panjang dirembukkan. Sebuah kepanitiaan besar dibentuk. Semua orang di angkatan saya nyaris membicarakan hal yang sama selama berminggu-minggu. Itu adalah momentum yang cukup langka dimana 128 orang dapat berkumpul dalam sebuah lingkaran serta mendiskusikan sebuah topik yang begitu penting. Semuanya dalam satu simpul dan kontrol.

Saya ingin menjabarkan satu kesimpulan  untuk menyetujui bahwa pelaksanaan KKL sekarang ini telah melenceng dari tujuan semula untuk mempraktikkan hasil pembelajaran secara langsung di lapangan. Tanpa mengabaikan prosesnya, KKL tak lagi mempresentasikan semangat keingintahuan untuk “menelaah tempat-tempat baru”, namun telah menjadi “liburan bersama” yang wajib dinikmati dan dirayakan semua orang, karena memang tak ada satupun peraturan yang melarang mahasiswa untuk tertawa gembira selama KKL. Namun, selain itu, seharusnya ada batasan-batasan tertentu bagi mahasiswa selama KKL berlangsung, yakni agar tetap memperhatikan tujuan awal bahwa KKL merupakan salah satu proses belajar. KKL adalah sebuah kunjungan, bukan liburan. Kunjungan memiliki hubungan erat terhadap identitas yang mengkomparasikan hal-hal yang berbau santun, tanpa melepaskan jati diri mahasiswa sebagai seorang akademisi.

Melalui KKL, sebuah rangkaian perjalanan akan menyuguhkan pengalaman-pengalaman baru di luar ruang kuliah dan panca indera menjadi lebih banyak digerakkan dari biasanya selama proses ini berlangsung. Dalam ranah pembelajaran di fase perkuliahan, para mahasiswa masa kini tentu semakin segan untuk terlibat dengan batasan yang konservatif, tapi justru cenderung ingin melewatinya. Seperti dalam pelaksanaan KKL ini, mustahil untuk menyingkirkannya dari kesan “megah” karena keterlibatan mahasiswa dalam jumlah masif dalam sebuah rombongan, yang otomatis membangun paradoks yang eksplosif bagi orang-orang yang melihat rombongan KKL saat berangkat atau tiba dengan 2-3 bus. Namun, sebaiknya pelaksanaan KKL dilakukan dengan tetap menjunjung tinggi tujuan awal untuk berinteraksi secara langsung terhadap lapangan (observasi) serta supremasi dari almamater, dengan menyesuaikan kebutuhan belajar pada masing-masing program studi di Undip. Bagaimanapun juga, KKL merupakan proses penting untuk membentuk pengalaman mahasiswa dengan melakukan praktek langsung ke lapangan serta melatih rasa persatuan dan kekompakan sebagai satu tim.

Tegar Satriani
Mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah dan Tata Kota
Fakultas Teknik