Kenyinyiran yang Puitis

Ilustrasi: Faqih

“Masih cari-cari artikel atau analisis dari sudut pandang linguist atau kritikus sastra tentang puisi yang dibacain Sukmawati.” Begitu kicauan kawan-twit saya @gemardanic pagi tadi. Membacanya menggelitik saya untuk coba ikut mencari-cari sumber. Kebetulan atau tidak, sayangnya kebanyakan tulisan yang saya temukan melulu bicara ke arah teologis.  Termasuk tulisan kemarin hari dari historia.id yang menyoal ‘Sastra yang di-cap Anti Islam’. Tentu bahasan seperti Babad Kedhiri, Serat Darmogandhul, dan Suluk Gatholoco, bukan hal yang dimaksud kawan-twit saya di atas.

Sebelum ramai-ramai kita berfirman sebagai pengamat-pengamat sastra yang ulung. Seyogianya kita ucapkan terima kasih dahulu kepada Budayawati, Sukmawati Soekarnoputri. Di tengah-tengah fenomena surutnya minat baca puisi dan tersingkirnya puisi dari industri buku. Melalui puisi ‘Ibu Indonesia’, puisi kembali mendapatkan perhatian masyarakat. Lagi-lagi oleh radiasi jagat Medsos, seketika dalam hitungan detik bermunculan puisi-puisi mutakhir. Sungguh saya melihat ini sebagai gejolak dalam dunia puisi. Gejolak tanda ia mulai hidup atau bisa juga tanda menuju stroke. Mengingat puisi-puisi karya Chairil Anwar yang dahulu turut membakar semangat kebangsaaan dan kemerdekaan. Lalu puisi-puisi WS Rendra yang mendorong perubahan politik di negeri ini. Saya menunggu dalam perbincangan di masa depan, puisi Ibu Sukma akan dijabarkan sebagai apa.

Menurut Adonis, puisi-puisi yang tercatat dalam tinta emas sejarah tidaklah lahir dari kekosongan budaya, dan eloknya akrobatik bahasa. Puisi-puisi itu berhubungan langsung dengan proses membangun makna hidup dalam konteks sosial, baik dalam ruang temporal maupun perenial. Sudah banyak puisi yang masuk kategori tersebut, begitu pun puisi Bu Sukma menurut pengakuannya sendiri. Jadi soal apa yang kemudian membikin puisi ‘Ibu Indonesia’ begitu canggih hingga meramaikan racau bias sastra-agama-pidana?

“Jika politik itu kotor, puisi yang akan membersihkan.” Sepertinya ucapan John F Kennedy tatkala terinspirasi oleh puisi yang dibawakan Robert Forst ini menjadi patut diragukan. Pemaknaan ideal tentang  sel-sel majas sebuah puisi, baik konotatif maupun denotatif, menyulut api perubahan dan menjadi semacam lampu ajaib guna menerangi kelamnya politik. Serta puisi puisi bisa membikin lembut cita rasa hidup, menawarkan pilihan dan membuka peluang memperbesar watak humanis, dan menghargai manusia dengan harga kemanusiaannya. Apalah ternyata, definisi-definisi tersebut belakangan ini terpaksa bertarung dalam intrepretasi massa.

Persoalan memaknai puisi ‘Ibu Indonesia” yang sebenarnya jauh dari diksi elit tidak lantas membutuhkan ahli semantik-semiotik. Apabila terpaksa dibedah, posisi puisi justru akan menjadi I’art pour I’art, seni hanya untuk seni sendiri. Puisi yang hanya berlaku pada mereka yang hidup di dalamnya, menjadi semacam pemeo “yang bukan penyair tidak ambil bagian.” Buat saya ini ironi, yang tampak mirip dengan gambaran karya Yunani, Tuhan yang Tak Dikenal (Kis. 17:23). Kita tahu bahwa Ia ada, tetapi karena terasa jauh dan sukar dipahami, maka ‘pengetahuan’ atas-Nya pun menjadi milik segelintir orang saja. Haruskah puisi ini jadi alien bagi kita? Jika kata; Syariat Islam, Azan, dan Cadar dimaksudkan sebagai duel identias dalam berpuisi. Romantisme yang hendak disampaikan Bu Sukma lebih semacam nyinyir yang puitis. Ia terlalu dangkal untuk diselami nilai-nilainya.

Saya ingat AA. Teuw pernah berkata bahwa seorang penyair adalah pelaku sejarah melalui puisinya. Pun Mursal Esten bernah berujar, puisi adalah jalan sunyi untuk memahami kemanusiaan, sementara industri adalah dunia hiruk pikuk yang tabiatnya mereduksi nilai kemanusiaan. Sebab itu barangkali riwayat pusi ‘Ibu Indonesia’ dibikin kala beliau dalam kesoliterannya menghirup kepulan asap Industri. Wicis litereli Bu Sukma membacakan puisi itu untuk 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018.

Faqih Sulthan

Mahasiswa Departemen Sastra Indonesia 2014

Fakultas Ilmu Budaya