Kembali Jadi Manusia di Kala Corona

Ilustrasi: Pixabay.com

OpiniCoronavirus diseases atau biasa yang disebut COVID-19, menjadi fenomena yang menggemparkan dunia di permulaan tahun 2020. Virus yang ditemukan pertama kali di Wuhan, Provinsi Hubei, China ini bukan lagi sekadar wabah, melainkan sudah ditetapkan World Health Organization (WHO) menjadi tingkat pandemi. Penyebarannya yang begitu pesat membuat banyak negara ikut terkena dampaknya, salah satunya adalah Indonesia.

Perkembangan COVID-19 yang begitu cepat, membuat banyak negara melakukan sikap preventif demi memutus rantai penyebaran. Salah satunya adalah dengan kebijakan Lockdown. Dikutip dari Cambridge, lockdown diartikan sebagai sebuah situasi di mana orang tidak diperbolehkan masuk atau meninggalkan sebuah bangunan atau kawasan bebas karena kondisi darurat.

Namun, apakah lockdown akan tepat penerapannya di Indonesia? Jika dilihat dengan cara pandang paling sederhana, terdapat beberapa hal yang menunjukkan ketidaksiapan negara kita dalam menerapakan tindakan tersebut. Terutama dalam bidang ekonomi. Bisa jadi mereka yang berkecukupan secara finansial dan tidak memiliki permasalahan ekonomi sangat mendukung tindakan lockdown diterapkan di Tanah Air, mengingat terus bertambahnya pasien suspect COVID-19 setiap harinya. Akan tetapi, mereka lupa jika perekonomian di Indonesia tidak sepenuhnya merata. Banyak rakyat biasa yang hanya bekerja sebagai pedagang, bahkan serabutan. Bagiamana pun situasinya mereka tetap harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Meskipun jika pada akhirnya lockdown tidak dapat diterapkan, tentu tetap perlu adanya saluran bantuan bagi rakyat kecil. Mereka yang mata pencahariannya terdampak atau bahkan hilang akibat pandemi ini. Mari belajar dari masyarakat di Jerman. Mereka yang berpendapatan lebih, bergotong-royong memberi makanan di jalan demi orang yang kebutuhannya tidak tercukupi, tentu dengan tetap memperhatikan prosedur pencegahan penularan virus. Bagaimana jika di Indonesia?

Belum lagi penggunaan bahasa asing pada istilah yang digunakan pemerintah dalam memberikan informasi pada masyarakat. Mereka lupa, masyarakat Indonesia belum sepenuhnya berpendidikan tinggi. Belum lagi mereka yang tinggal di daerah, Bukan salah mereka jika ternyata himbauan pemerintah tidak dihiraukan oleh sebagian masyarakat. Rakyat kecil tentu tidak begitu mempedulikan apa itu lockdown, social distancing, self isolation, dan lain sebagainya. Yang dipahami hanyalah sekadar Corona dari China dan mereka tetap harus memenuhi kebutuhan hidup bagaimana pun juga.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari musibah pandemi Coronavirus disease ini. Terutama dalam hal kemanusiaan yang tidak boleh musnah. Sesekali lirik tetangga kanan kiri, bantu kebutuhannya walau tidak seberapa. Edukasi masyarakat mengenai pencegahan dan penangana COVID-19 dengan bahasa yang dipahaminya. Hal kecil menurut kita, namun sangat berharga bagi mereka.

Lekas pulih dunia, lekas pulih Indonesia!

Penulis: Siti Marfu’ah (Mahasiswi S1 Antropologi Sosial 2019)
Editor: Alfiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *