Ke Mana UKT Saya?

Opini Mahasiswa

Ke mana UKT saya? UKT saya buat apa? Mungkin itu pertanyaan yang terbesit di sebagian besar mahasiswa Universitas Diponegoro. Masih banyaknya jurusan yang belum memiliki gedung sendiri dan kurangnya fasilitas belajar mengajar menjadi salah satu penyebab munculnya pertanyaan tersebut. Ruang kelas yang kurang, pendingin ruangan yang tidak berfungsi, alat-alat laboratorium yang rusak menjadi bukti nyata buruknya fasilitas belajar mengajar di Universitas Diponegoro. Namun anehnya, di balik kekurangan tersebut Universitas Diponegoro justru berencana untuk membangun gedung Art Center dan komersialisasi kampus Pleburan. Sebelumnya pihak universitas juga lebih memilih untuk membangun gedung Training Center II ketimbang membangun gedung untuk jurusan yang masih belum memiliki gedung.

Saya dan teman-teman merupakan mahasiswa salah satu jurusan yang belum memiliki gedung yakni jurusan Teknik Lingkungan. Kami hanya memiliki tiga ruang kelas dan salah satu ruang kelas dibagi menjadi dua sehingga terkesan memiliki empat ruang kelas. Kami sudah merasakan bagaimana tidak nyamannya belajar di ruang kelas yang panas karena pendingin ruangan yang rusak, bagaimana tidak nyamannya belajar di ruang kelas yang gaduh karena diantara dua ruang kelas hanya dibatasi oleh sekat yang tidak bisa tertutup rapat sehingga suara dari kelas lain dapat terdengar di kelas sebelahnya. Ya, cuma dibatasi sekat. Kami sudah merasakan bagaimana tidak nyamannya berdesakan di ruang kelas yang sempit pada saat kelas A dan B harus digabung karena keterbatasan tempat. Kami sudah merasakan betapa tidak nyamannya menatap layar proyektor yang ukurannya lebih kecil dari yang seharusnya karena proyektor tidak dipasang secara permanen pada jarak yang tepat dan warna nya berubah-ubah bahkan kadang hanya berwarna putih, hitam, dan abu-abu karena kabel penghubungnya yang rusak. Bahkan yang lebih hebat lagi, kami sudah pernah merasakan semua hal tersebut secara bersamaan di suatu ruang kelas.

Tidak jauh berbeda dari keadaan ruang kelas, laboratorium kami pun juga cukup memprihatinkan. Kami hanya punya satu laboratorium. Ya, cuma satu. Sa-tu. Itu pun kondisinya tidak terlalu baik. Oven yang terdapat di laboratorium kami sudah tidak bisa diatur temperaturnya, lemari pendinginnya juga sudah tidak berfungsi, alat-alat uji banyak yang rusak begitu pun tutup-tutup laci, dan blower di ruang asam juga sering tidak berfungsi. Banyak barang-barang yang menumpuk di laboratorium kami, seolah-olah seperti kami yang berdesakan di ruang yang sempit saat kelas A dan B harus digabung. Di universitas lain, jurusan kami setidaknya memiliki tiga laboratorium: laboratorium air, udara, dan sampah. Tapi di Universitas Diponegoro, jurusan kami hanya punya satu laboratorium. Air, udara, sampah, semua jadi satu. Keterbatasan ruang laboratorium juga menimbulkan masalah lain. Teras di depan laboratorium menjadi tempat favorit bagi mahasiswa yang sedang melakukan tugas akhir untuk meletakkan prototipe atau reaktornya sehingga menghalangi orang yang ingin lewat dan sering menimbulkan bau serta mengganggu estetika bagi yang melihat.

Semoga saja pihak universitas atau pihak lain mau berbaik hati membangun gedung baru untuk jurusan kami dan jurusan lain yang belum memiliki gedung. Apalagi salah satu visi Universitas Diponegoro yaitu menjadi universitas yang unggul dalam riset pada tahun 2020. Kurangnya fasilitas yang kami dapatkan harus diakui menyebabkan ketidaknyamanan pada saat kegiatan belajar mengajar. Jika kenyamanan dalam belajar saja belum bisa diberikan, bagaimana dapat menjadi universitas yang unggul dalam riset? Semoga hal ini segera ditindaklanjuti sehingga visi Universitas Diponegoro dapat dicapai dan semua mahasiswa Universitas Diponegoro mendapat fasilitas yang layak. Hidup Mahasiswa!

Akhmad Masykur
Teknik Lingkungan 2013
Fakultas Teknik Undip