Jadug-Aang: Tujuan Kami untuk Mengabdi

(Foto: Nina/Manunggal)

(Foto: Nina/Manunggal)

Sejak kapan Anda berniat mendaftar sebagai calon? Bagaimana prosesnya?

Jadug: Kalau mengenai mulai fix saya mau nyalon tahun ini, ya? Sejak saya awal-awal menjabat senat, kan saya ketua senat paling muda se-Undip ya, banyak sekali teman-teman yang mendukung tapi saya bilang nggak dulu. Puncaknya roadshow BEM Undip ke FISIP, saya melihat banyak yang kiranya bisa diperbaik, belum maksimal. Saya sampaikan waktu itu, yang bisa jawab cuma Mas Fawaz. Saya sering mikir sesuatu, say bikin evaluasi Undip. Lama-lama saya punya keresahan, lalu dengan dorongan dari teman-teman yaudah insya Allah tahun ini maju. Awalnya saya bertanya-tanya dulu, apakah benar ini untuk mengabdi atau esensi diri?

Bagaimana kalian bisa berpasangan?

Jadug: Saya punya ide-ide dasar. Wakil saya belum menemukan, karena saya juga nggak bilang ke permukaan dulu karena kadang niatan saya masih goyah. Terus ternyata di buku maba ada nama Aang Munawar Sholeh, dia itu KMB (Keluarga Mahasiswa Banten). Lalu kita ketemu di salah satu forum, kita ngobrol banyak. Karena banyak kecocokan, saya istilahnya mengajak dia sama-sama membangun Undip.

Aang: Pertama kali kenal sama Jadug itu di LKMM Madya. Sebenernya saat Jadug mau mencalonkan diri itu banyak sliweran berita. Saat di Madya, saya perhatikan Jadug, dan ternyata kapabilitas dia, cara dia bicara, wawasannya luar bisa. Menurut saya dia orang yang hebat. Pada saat Jadug meminta saya menjadi wakilnya. Dia jelaskan apa yang akan dia bawa untuk BEM Undip kedepannya. Dan saya merasa sepemikiran dengan Jadug. Saya merasa Jadug memiliki kapabilitas dalam bidang legislasi, konsep dan segala macam, sedangkan saya punya keahlian dalam bidang eksekusi karena saya berasal dari BEM. Saya pikir saya bisa melengkapai apa yang dipikirkan oleh Jadug sehingga event itu bukan hanya sekedar konsep tapi bisa terwujud dalam bentuk program kerja yang nyata.

Kedua calon wakil ketua dari dua pasangan calon berada di fakultas, bahkan program studi yang sama. Apakah hanya suatu kebetulan bahwa kalian berdua berangkat dari tempat yang sama?

Aang: Kalau kebetulan atau bukan, saya rasa untuk pencalonan pun, sebenarnya butuh pemikiran yang panjang untuk menjadi pemimpin se-level universitas itu bukan pertimbangan yang pendek. Dan Jadug fix maju itu H-sekian untuk melakukan pendaftaran. Jadi saya tidak memantau Arif bakal maju apa tidak kemarin. Tapi tiba-tiba dia maju. Dan jujur kalau buat izin ke angkatan sendiri itu saya duluan, izin angkatan-angkatan dan ke komting-komting. Dan saat ketika Arif maju ya silakan maju. Saya rasa dia juga mempunyai sesuatu yang bagus juga. Ya sudah mari kita sama-sama maju. Kemarin juga sempat dipermasalahkan di angkatan juga. Cuma saya menjelaskan kalau saya disini tidak akan main jegal-jegalan dan tidak akan mencitra burukkan dia, harapannya dari kedua mahasiswa kapal ini dapat memberikan kontribusi secara nyata.

Senat dan BEM merupakan dua badan yang berbeda. Setahun terakhir, calon ketua dari pasangan nomor 2 berada di Senat. Bagaimana cara Anda mempelajari karakteristik BEM?

Jadug: Sebelum di Senat, saya termasuk di kepengurusan BEM FISIP 2015. Saya malah bersyukur saya di Senat. Selama ini kita memandang BEM itu yang nomor 1 ya. Negara kita menganut trias politika. Di Undip, kalau eksekutif apa? BEM. Legislatif? Senat. Yudikatif? Senat juga. Dari tiga ini, dua dipegang senat. Lalu, misalnya senat legislatif. Ada beberapa sistem di suatu negara, misalnya bikameral dan multikameral. Di Undip ini, cuma ada satu kamar, yaitu senat itu. Tambah berkuasa lagi, kan? Dari segi kewenangan, yang banyak itu senat. Kalau ditanya, saya tidak hanya tahu, lebih dari paham malah. Saya rasa tidak kaget karena sebelumnya saya juga di BEM. Di situ saya berpikir bahwa saya banyak pencermatan. Saya berpikir semua itu bisa. Saya percaya saya bisa.

Program unggulan apa yang dimiliki pasangan calon nomor 1?

Jadug: Yang pertama, sebelum saya dilantik, insya Allah seluruh pengurus BEM Undip termasuk kadiv dibawah kepemimpinan Jadug Trimulyo Ainul Amri dan Aang Munawar Soleh akan melakukan open recruitment secara terbuka dan melibatkan psikolog. Kadang kan kalau terbuka doang ada pemikiran, ah ini nanti tergantung yang dekat ketua. Yang kedua, ada malam apresiasi. Sebelum malam apresiasi ada liga prestasi. Kita bikin list prestasi yang diperoleh mahasiswa se-Undip, dikelompokkan berdasarkan fakultas. Nanti ada perankingan. Nanti akan diberikan penghargaan oleh birokrasi kampus. Kita lihat efek dominonya. Kan nanti ada piala bergilir. Misal FT menang, FISIP akan merasa, wah FT kok menang? Akhirnya dekan FISIP meningkatkan bantuan, misalnya pendampingan dan dana. Mahasiswa bisa semangat.

Berikutnya ada malam apresiasi. Itu juga sama. Mahasiswa akan diberi penghargaan oleh birokrasi. Bayangkan efeknya, wah saya pengen seperti itu. Akhirnya semua mahasiswa akan terpacu. Nanti juga ada penampilan-penampilan seni dari fakultas. Gayeng-lah istilahnya. Ini juga dibarengi dengan malam penganugerahan mawapres. Orang tua mawapres akan diundang juga di situ. Teman-teman tahu puncak prestasi kan ya mawapres itu. Ada efek domino lagi. Wah, saya capek pun nggak masalah karena ada prestasi. Dan nanti ada database peraih prestasi kan, nanti juga akan ada pelatihan kemahasiswaan. Kita hubungkan ke yang pernah ikut lomba yang sama, jadi bisa dievaluasi. Efeknya lebih besar kan daripada yang tidak tahu sama sekali. Insya Allah ada kalender lomba juga.

Terus ada Diponegoro International MUN. Undip kan tidak ada wadah yang se-Undip. Kita juga akan merintis penggabungan Undip dengan AUN, Asean University Network. Kita ingin bergabung karena banyak kerjasama seperti pertukaran pelajar dosen dan sebagainya.

Mengenai seni, seberapa jauh Jadug mengenal Peksiminas?

Jadug: Peksiminas itu apa?

Pekan Seni Mahasiswa Nasional. Ini juga menjadi keresahan. Selama ini, Undip fokus ke riset, dan terbilang masih kurang dalam mengapresiasi prestasi dalam bidang seni.

Jadug: Di malam apresiasi itu, tidak hanya apresiasi riset. Teman-teman yang juara seni juga ada apresiasi. Nanti juga ada penampilan seni dari seluruh fakultas. Insya Allah, awal Maret atau akhir April. Kalau Peksiminas ada di pertengahan tahun, maka ini bisa jadi salah satu wahana, ada seleksi dulu di tingkat fakultas. Nah ini terima kasih informasinya. Ingatkan lagi ya nanti.

Dari mana asal dana kampanye yang kalian gunakan?

Aang: Untuk dana kampaye sediri, kita lebih banyak patungan. Jadi saya maju dan ada yang mendukung dari fakultas-fakultas. Teman-teman yang mendukung ini tidak hanya mendukung secara moral saja, tapi mendukung secara materi juga. Jadi temen-temen bisa memberikan uang Rp100.000, Rp300.000, dan Rp500.000. Jadi dana kampaye berasal dari situ. Saya pun jujur untuk bayar video dan bayar baliho itu ada. Jadi bukan tiba-tiba yang nggak jelas, tapi itu berasal dari temen-temen semua yang mendukung kita. Bahkan ada uang yang tidak diberi nama, jadi cuma bilang dari hamba Allah.

Kalau boleh tahu, kisaran nominal dana yang dihabiskan selama proses masa kampaye ada berapa?

Aang: Kisaran Rp5 juta, selama masa kampanye tugasnya memang dibagi-bagi. Kalau saya sama Jadug bertugas membuat sebuah gagasan, ide, dan delivery-nya seperti apa. Kalau untuk amunisi seperti banner dan segala macam, itu ada tim sendiri yang mengurusnya.

Isu kampus apa yang menurut kalian perlu menjadi fokus BEM Undip ke depan?

Jadug: Nah, kita nggak bisa bergerak atas dasar intuisi. Kita bergerak atas dasar pemahaman, kajian, dan permasalahan yang ada. Kita melakukan kajian dulu, mana yang jangka pendek, mana yang jangka panjang. Misalnya pembangunan ekolah vokasi, bahkan kita sudah bertemu dengan dekan vokasi dan lain-lain. Pertama tentang pembangunan, polines nggak jadi dipindah. Tapi nanti psikolog di depan FISIP. Lalu Psikologi nanti jadi SV. Nanti ada pengawalan, dan juga transparansi dana yang penting.

Apa yang membedakan calon no. 2 dengan calon lain?

Jadug: Ya insya Allah tadi program unggulan yang saya sebutkan belum disebutkan oleh pasangan lain. Itu. Kita mengajak seluruh mahasiswa untuk bergerak bersama, mengabdi. Saya melihat program pasangan nomor 2 kok pandangannya tidak sekonkrit punya kami, bahkan ada beberapa yang diadopsi. Serius. Bahkan cara ngomong juga diadopsi. Tapi nggak apa, itu berarti pengakuan sehingga siapapun yang jadi nanti ide kita tetap terlaksana.

Jika nanti terpilih sebagai Ketua BEM Undip, apa yang ingin Anda dapatkan dari posisi tersebut?

Jadug: Tadi lho, kan tadi saya sudah jawab. Waktu saya maba, saya masih ingat sampai sekarang motto saya bermanfaat bagi umat. Dalam hal ini, mahasiswa. Saya merasa, dengan ini kesempatan saya untuk memberi manfaat saya lebih besar. Kalau untuk mengisi CV, saya sudah ketua senat, sudah mawapres, ya sudah alhamdulillah kan? Dosen saya sampai datangin saya dan bilang, udah kamu nggak usah maju lagi, kamu itu udah bagus, tinggal fokus ke prestasi aja.

Pada realitanya, masih banyak mahasiswa yang kurang menyadari atau pun merasakan manfaat BEM. Bagaimana strategi anda untuk mengatasi permasalahan tersebut?

Aang: Banyak orang yang tidak merasakan manfaat dari BEM Undip. Mungkin bisa ditanyakan manfaat apa yang Anda ingin. Kalau saya lihat mungkin, bagaimana cara menciptakan kolaborasi dan aspek partisipasi dari setiap fakultas yang ada. Tiap kampaye pasti ditanya, apasih yang dapat temen-temen berikan untuk tiap-tiap fakultas di Undip? Saya rasa yang dapat diberikan adalah bagaimana kita mewadahi ataupun BEM Undip menginisiasi pergerakan mahasiswa undip dalam melakukan projek bersama dan meningkatkan kebermanfaatannya.

Program kerja yang kita ambil adalah program kerja pengabdian masyarakat. Bagaimana kita memberikan aksi secara nyata, yaitu lewat itu. Misalnya kita amati apa saja permasalahan yang terjadi di Tembalang. Contohnya permasalahan banjir, ketika ada banjir ditembalang yang membuat kos-kosan terendam. Dari permasalahan tersebut, bagaimana kita meningkatkan, mengajak untuk menginisiasi setiap fakultas untuk turun dan memecahkan setiap masalah tersebut. Contoh banjir, apa sumber masalahnya. Coba kita lihat dari sudut pandang teknik planologi, coba lihat sudut pandang teknik sipil dan juga dari teknik lingkungan. Kita bikin dulu analisisnya. Lalu ternyata bukan hanya itu saja, banjir terdapat dampak ekonominya, lalu kita tanya temen-temen ekonomi seperti apa. Atau bisa saja masyarakatnya yang bermasalah, kita tanya anak-anak FKM dan Psikologi. Sehingga dari itu semua, kita bisa membuat suatu analisis yang komperhensif dari segala sudut pandang dan itu merupakan hasil dari mahasiswa.

Ketika kita sudah dapat solusinya, apakah kita bisa menyelesaikan sendiri sebagai mahasiswa. Kalau bisa kita kerjakan, kalau tidak bisa kita akan memberikan hasil kajian ke pemerintah kota. Ketika kita telah memberikan kepada pemerintah kota, baru mereka yang akan mengeksekusi. Karena setahu saya, pemerintah kota pun terkadang meminta. Saya dulu pernah melihat di twitternya Pak Ganjar ada mahasiswa yang protes dan ditanggapi baik oleh pemerintah kota. Diharapkan bem bisa hadir seperti itu. Jadi bukan hanya memberikan kebermafaatan kepada teman-teman mahasiswa tapi juga memberikan kebermanfaatan seluas-luasnya khususnya masyarakat yang berada di Semarang. Sehingga dari situ terlihat kolaborasi dari tiap fakultas. Sebenarnya menurut saya BEM Undip seperti itu, bukan menjadi BEM yang ke 12, tapi bagaimana 1 BEM yang menwadahi pergerakan BEM 11 fakultas. Saya rasa ini bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti hal yang tidak bisa diinisiasi. Kita harus inisiasikan ini tahun depan.

Jika kalian menang, apakah kalian bersedia menggandeng pasangan lawan?

Aang: Kalau soal itu, sudah jelas di grand design pun kita mengadakan oprec secara terbuka baik koorbid, kabid, semuanya dioprec dan melibatkan psikolog. Itu berarti sekitanya arif sama dzakki ingin gabung dengan BEM Undip ya monggo. Silakan daftar, nanti akan ada fit and proper test dan akan dicek kapabilitasnya sampai mana, seandainya mereka memumpuni ya kenapa enggak.

Bagaimana jika kalian kalah?

Aang: Kalau saya ya, saat saya belum diberi amanah disini. Saya tetep ingin berkontribusi entah itu di BEM universitas atau di BEM fakultas saya. Jadi mungkin nanti saya lihat kondisi apakah saya lebih dibutuhkan di universitas atau di fakultas yang jelas saya tetap berkontribusi gitu. Karena organisasi merupakan salah satu darah dari saya.

Apa pesan untuk mahasiswa Undip?

Jadug: Insya Allah, saya dan Aang akan mempersembahkan ketulusan pengabdian karena tujuan kami untuk mengabdi. Kita hanya mahasiswa biasa. Kami cuma sebagai pengelola, pelayan, yang mengelola sumber daya yang ada untuk memberi kebermanfaatan bagi seluruh anggota organisasi. Siapa anggota organisasi itu? Ya mahasiswa.