Investasi Minat Baca

Membaca memang belum menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Hal ini berdasarkan survey Badan Pusat Statistik tahun 2009, yang menunjukkan bahwa 90,27 persen masyarakat Indonesia lebih senang menonton televisi dibandingkan membaca yang hanya mencapai angka 18,94 persen. Minat baca masyarakat Indonesia yang rendah, dinyatakan pula oleh Suwandi S Subrata, Direktur Eksekutif Kompas Gramedia (<a href=”http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/16/rendahnya”><em>http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/16/rendahnya</em></a><em>-minat-baca-bangsa- didownload tanggal</em><em> </em><em>6 Juni 2012)</em>, yang menyampaikan bahwa pada tahun 2011 Indonesia memproduksi buku sekitar 20.000 judul. Artinya, apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 240 juta, satu buku dibaca 80.000 orang. “Angka yang sangat tidak masuk akal dan memiriskan”, tegas Subrata.

Seberapa penting membaca bagi kehidupan manusia? Disadari atau tidak, membaca dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam menjalani kehidupan lebih baik dalam berbagai hal. Tidak hanya uang, emas, tanah, dan rumah yang dapat meningkatkan investasi/modal, tetapi membaca dapat pula menambah nilai investasi. Andrew Ho, seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller seperti “Highway to Success” dan “The Art of Communication that Works”, menyatakan bahwa membaca merupakan salah satu investasi yang baik dari waktu kita. Investasi yang dimaksud Andrew, dengan membaca diantaranya membangun pondasi yang kuat dalam berbagai disiplin ilmu, meningkatkan kecerdasan verbal dan memperkaya kosa kata. Menguasai dan memperkaya kosa kata akan mempermudah bagi seseorang untuk merangkai kata dalam berucap maupun dalam tulis menulis, menyusun karangan atau berpidato. Membaca menjadikan orang berfikir dan merenung yang dapat menimbulkan imajinasi, dan pada gilirannya tumbuh berbagai kreativitas. Kreativitas akan membedakan seseorang dengan orang lain. Keterbatasan sumber daya menjadikan tak terbatas ketika kreativitas berkembang. Dengan kecerdasan dan kreativitas yang tinggi, menjadikan seseorang lebih percaya diri, mampu meningkatkan interaksi sosial terhadap siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Gilirannya orang semacam ini dapat membentuk karakter dan kepribadian yang kuat dan tangguh. Era global saat ini tidak pernah akan menjadi penghalang bagi dirinya dalam menembus kompetisi universal. Sampai ada pepatah yang menyatakan, “Apa yang kita baca sekarang, seperti itulah kita 20 tahun yang akan datang”. Masih menurut Andrew, membaca menjadikan kita lebih dewasa, lebih arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan.

Bagi negara maju seperti Amerika dan Jepang, membaca tidak bisa dipisahkan dengan gaya dan kehidupan masyarakatnya. Dimanapun berada, mereka bisa membaca seperti di jalan, halte, stasiun kereta api, bahkan sambil menunggu pesanan makan datang merekapun memilih membaca dari pada bengong. Budaya membaca seperti budaya lain, kesenian misalnya, tidak tumbuh dengan sendirinya, harus dibangun dan dikembangkan secara terus menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa pernah berhenti. Sementara kita juga mengetahui dengan budaya membaca yang tumbuh subur di suatu bangsa, menjadikan mereka bangsa yang maju dan super subur. Tahun 2008, GNP (Gross National Product/Pendapatan Nasional Brutto per kapita suatu negara) negara Amerika Serikat dan Jepang masing-masing US$47.440 dan US$35.560, sementara Indonesia US$ 710.

Penyediaan bacaan seperti buku, majalah, dan surat kabar secara terbuka adalah salah satu alternatif agar masyarakat terutama anak didik mendapat kemudahan dalam membaca. Layanan semacam ini tersedia di perpustakaan. Baik perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan publik seperti perpustakaaan kota, provinsi, dan perpustakaan nasional, perpustakaan keliling atau perpustakaan mobil. Tentu baik apabila orang tua bersedia membangun perpustakaan pribadi atau perpustakaan keluarga. Karena banyak orang hebat bahkan super hebat yang rajin membaca dengan memiliki perpustakaan pribadi. Mantan-mantan Presiden Amerika Serikat juga memiliki perpustakaan pribadi, seperti Lyndon B. Johnson, John F. Kennedy, Jimmy Carter, Ronald Reagen, Richard Nixin, Bill Clinton, bahkan Barrack Obama (Presiden AS, saat ini) juga memiliki perpustakaan pribadi. Beberapa orang besar Indonesia yang juga gemar membaca dan memiliki perpustakaan pribadi, diantaranya Bung Hatta, BJ Habibie, Gus Dur, dan SBY (Presiden RI, saat ini).

Dalam pemilihan buku atau bacaan sama halnya dengan berinvestasi, maksud dan tujuannya adalah mendapat manfaat dan menguntungkan baik saat ini maupun dimasa mendatang. Oleh karenanya, memilih atau membaca buku sebaiknya sesuai kebutuhan sekaligus yang bermutu. Beberapa cara yang dapat dipertimbangkan dalam mendapatkan buku bermutu diantaranya mengetahui terlebih dahulu kualitas penulis, penerbit yang memiliki reputasi baik, mengupayakan rekomendasi dari teman atau komuniti terkait.

Dengan banyak membaca buku atau bacaan yang bermanfaat, akan memposisikan seseorang dibaris terdepan. Dia mengetahui apa yang telah terjadi dimasa lalu, saat ini dan kemungkinan yang akan terjadi dimasa datang. Semakin banyak seseorang membaca semakin banyak keuntungan yang akan diperolehnya. Meskipun menguntungkan dan banyak manfaatnya, namun jangan sampai menggunakan waktu kita hanya untuk membaca sehingga lupa pada keluarga, teman, dan handai taulan. Karena hal itu bukan tujuan dari membaca. Jadikanlah membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan bagi diri sendiri maupun lingkungan.


Oleh:

Ari Widjayanti

Pemerhati Perpustakaan Universitas Diponegoro


Kanal Opini ini merupakan Media Mahasiswa. Setiap berita/opini di kanal ini menjadi tanggung jawab Penulis.