In Memoriam Sapardi Djoko Damono, Sang Pujangga Lintas Generasi

Tanah air kehilangan satu dari sastrawan terbaiknya, Sapardi Djoko Damono. (Foto: Gramedia)

“Saya suka sastra karena saya suka membaca dan saya senang ketika melakukan hal itu,” ujar Sapardi Djoko Damono 2015 silam.

Peristiwa— Kalimat tersebut meluncur dari bibir Sapardi tatkala ditanya reporter Manunggal, Verawari Meidiana perihal motivasinya menggeluti dunia sastra. Pecakapan tersebut berlangsung seusai diselenggaraknnya Seminar Nasional di Gedung Pascasarjana Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, pada 2015 silam. Kala itu Sapardi juga mengaku, “sejak kecil, kira-kira sejak SMP saya mulai menulis dan terus menerus sampai sekarang,” ujarnya.

Konsistensinya untuk berkembang sebagai penyair membuat dirinya paham akan sastra yang kian berkembang dalam penyajiannya. “Cara menyampaikan sastra ini selalu berubah karena teknologi,” ungkap pujangga itu. Perkembangan sastra yang amat dinamis itu pula terasa selaras dengan karya dan pencapaiannya yang ramai menghiasi dunia sastra.

Apapun kraya-karya Sapardi diantanaya Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), dan Arloji (1998), dan sebagainya. Disamping itu pria yang lahir pada tanggal 20 Maret ini pula memiliki sederet pengharagaan yakni Cultural Award dari Austalia (1978), Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983), SEA Write Award dari Thailand (1986), Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990), Mataram Award (1985), Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI, dan penghargaan Achmad Bakrie (2003).

Belum usai disana. Masih ada sederet kontribusinya dalam bidang sastra juga pendidikan meliputi Guru Besar Ilmu Sastra, Pembantu dekan I Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), Dekan FIB UI, Pendiri Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), Dosen Undip, Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia, dan lain sebagainya.

Karya serta pencapain Sapardi yang cemerlang itu menjadi hasil ketekunannya dalam mengungkapkan ekpresi melalui sastra. Dalam pembicaraan itu, Sapardi pula berpesan bila ingin menjadi penulis maka harus membaca. “Dengan membaca kita belajar bahasa, memahami masalah -masalah, dalan lain sebagainya,” akunya. Beliau juga berpendapat, sastrawan yang baik adalah sastrawan yang suka membaca. Oleh karena itu, hal sesederhana menulis perlu diawali dengan membaca.

Demikian, memang, sepenggal perbincangan Sapardi Djoko Darmono dengan Manunggal di tahun 2015 silam. Kini pribadi itu telah berpulang. Tepatnya pada 19 Juli 2020 lalu. Kendati demikian, sajaknya akan terus hidup dan menghampiri pendengaran. Oleh karena dalam setiap gores tangan itu, tentu ada kasih. Kasih yang sama seperti sajak aku ingin: aku ingin mencintaimu dengan sederhana.

Penulis: Cindy Yulita

Editor: Winda N, Alfiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *