Identitas dalam Tradisi Putih-Hitam

(Ilustrasi: Faqih, Fitri/Manunggal)

(Ilustrasi: Faqih, Fitri/Manunggal)

Selasa (9/8), gedung-gedung dipenuhi antusias mahasiswa baru. Berkumpul untuk saling mengenal teman hingga lingkungan kampus. Ada yang dilakukan di halaman gedung bermandikan terik matahari pagi, ada pula yang diselenggarakan di ruangan dengan penyejuk udara. Namun, terdapat satu ciri khas PMB yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun, yaitu seragam putih-hitam yang selalu melekat di tubuh setiap mahasiswa baru.

Serentak mengenakan seragam putih-hitam bagi mahasiswa baru (maba), sudah menjadi tradisi dari kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Jurusan Teknik Perkapalan, salah satu jurusan yang dikenal cukup ketat dalam peraturan penggunaan seragam, tahun ini hanya mewajibkan maba untuk memakai pakaian putih-hitam selama dua bulan. Hal ini berbeda dari tahun lalu yang hampir menggunakam putih-hitam selama setahun.

Menurut ketua panitia PMB 2016 jurusan Teknik Perkapalan Arvega Arya Arrahman, perubahan rentang waktu tersebut disesuaikan dengan kapasitas atau kemampuan mahasiswa baru. “Keputusan mengenai kebijakan tersebut merupakan hasil musyawarah panitia PMB dengan tetap korodinasi dengan kajur (ketua jurusan, red),” kata Vega.

Tahun ini, tambah Vega, identitas akan diterapkan tidak hanya dengan mengenakan pakaian putih-hitam. “Tetapi boleh juga batik dan jaket jurusan, untuk menciptakan rasa cinta dan bangga terhadap jurusan,” jelas Vega.

Pemandangan lautan mahasiswa berseragam putih-hitam juga terlihat di lapangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Berdasarkan kesepakatan dari para kajur dan panitia PMB 2016, FEB menerapkan peraturan memakai seragam putih-hitam hanya selama masa PMB. Berbeda dengan tahun sebelumnya, peraturan tersebut diterapkan selama satu semester. “Perubahan peraturan ini tidak didasarkan pada suatu alasan tertentu, hanya suatu kebijakan yang ditetapkan oleh dekan dengan kajur-kajur,” kata Dewanda Maulana, ketua PMB Manajemen 2016.

Dewanda mengungkapkan bahwa penetapan peraturan memakai seragam putih-hitam dilakukan agar mahasiswa baru dapat lebih disiplin. “Kita dapat membedakan mana yang maba dan mana yang tidak. Hal ini juga bertujuan supaya kita bisa melihat perkembangan maba dalam beradaptasi atau bersosialisasi. Jadi jika maba membutuhkan bantuan, dapat dibantu oleh kakak tingkat,” jelasnya.

Seiring dengan perubahan peraturan, tahun ini mulai diberlakukan sistem kakak pembimbing yang akan membantu mahasiswa baru. Kakak-kakak pembimbing tersebut memiliki fungsi controling langsung kepada para mahasiswa baru. “Tahun sebelumnya sistem ini sudah diberlakukan, tetapi dalam pelaksanaannya kurang efektif dan terstruktur,” ungkap Dewanda saat ditemui tim Joglo Pos Xpress di FEB.

Meskipun tradisi putih-hitam selalu sama, namun alasan filosofis di setiap fakultas bermacam-macam. Sedikit berbeda dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), ketua PMB FISIP 2016 Nico Ariowibowo mengatakan penggunaan pakaian putih-hitam bukanlah menjadi pembeda status mahasiswa baru dengan mahasiswa lama. “Dari fakultas tidak terlalu ketat peraturannya, serta pemakaian putih-hitam sebagai masa transisi atau perubahan setelah melewati suasana SMA menjadi suasana perkuliahan,” kata Nico.

Lalu, akankah budaya seragam putih-hitam masih menjadi simbol identitas mahasiswa baru di Undip? (Lilis, Reyuni, Dwi, Putri/Manunggal)

Versi cetak artikel ini terbit di newsletter Joglo Pos Xpress Edisi II / TAHUN XVI /10 Agustus 2016 di halaman 4 dengan judul “Identitas dalam Tradisi Hitam-Putih”.