Gus Mus: Kelakuan Baik Lebih Penting Ketimbang Gelar Akademik

Seminar Nasional Psikologi Transpersonal-Spritual di Gedung Prof Soedarto Undip, Rabu, 9 Oktober 2013, dengan pembicara (dari kiri) Prof Eko Budihardjo, KH. Mustofa Bisri, dan Hastaning Sakti. (Dian/Manunggal)

Seminar Nasional Psikologi Transpersonal-Spritual di Gedung Prof Soedarto Undip, Rabu, 9 Oktober 2013, dengan pembicara (dari kiri) Prof Eko Budihardjo, KH. Mustofa Bisri, dan Hastaning Sakti. (Dian/Manunggal)

ManunggalCybernews – Budayawan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus menilai kelakuan baik atau budi pekerti lebih penting daripada gelar akademik. Penilaian Gus Mus itu berawal dari keprihatinan, semakin maraknya orang dengan sederet gelar akademik, tapi tetap melakukan kejahatan dan merugikan orang lain.

Gus Mus mengilustrasikan para tokoh dengan gelar akademik, tapi tetap melakukan tindakan tidak terpuji. Bahkan, menurut Gus Mus, tokoh dengan gelar profesor pun tetap mungkin melakukan tidakan tidak terpuji itu, semisal korupsi. “Makanya jangan heran, banyak orang pintar tapi tidak terdidik,” kata Gus Mussaat menjadi pembicara di Seminar Nasional Psikologi Transpersonal-Spiritual di Gedung Prof Soedarto Undip Semarang, Rabu, 9 Oktober 2013.

Argumen Gus Mus tentang gelar akademik bukan jaminan seseorang terhindar dari tindakan tidak terpuji bukannya tanpa dasar. Gus Mus meminta para peserta seminar berkaca pada pemberitaan di televisi, tentang penangkapan para tokoh besar di Indonesia oleh lembaga antirasuah karena terlibat korupsi. Tokoh yang korupsi itu, mulai dari pengusaha, pejabat negara, hingaa penegak hukum. Menurut Gus Mus, tokoh-tokoh itu memiliki bekal akademik yang besar, tapi tanpa didikan budi pekerti.“Di otak dijejali pengetahuan, tapi hatinya kosong sama sekali.”

Hal itu Gus Mus bandingkan dengan kehidupan masyarakat di pedesaan. Di desa, kata Gus Mus, masyarakat dengan pendidikan rendah justru akan berpikir sekian kali untuk melakukan tindakan tidak terpuji, seperti mencuri. “Di desa, lebih baik goblok, daripada tidak terdidik,” ujar dia.

Gus Mus hadir sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Psikologi Transpersonal-Spiritual bersama budayawan yang juga Rektor Undip 1998-2006, Profesor Eko Budihardjo dan psikolog Hastaning Sakti. Seminar itu menjadi rangkaian perayaan Dies Natalis Undip ke-56 yang bertema Berkarya dengan Empati. Seminar psikologi kali ini, menurut ketua panitia yang juga Dekan Fakultas Psikologi, Prasetyo Budi Widodo, menekankan pada pentingnya keluarga sebagai pendidik pertama bagi manusia dan spiritual sebagai pijakan utama manusia saat bertindak. (Dian/Manunggal)