Gunakan Abu Sekam Padi, Tim PKM-P Undip Ciptakan Pengganti Bensin

(Dok. Istimewa)

(Dok. Istimewa)

ManunggalCybernews—Bensin merupakan bahan bakar kendaraan bermotor yang ketersediaannya semakin terbatas, sehingga diperlukan adanya bahan bakar alternatif lain agar kendaraan bermotor tetap dapat beroperasi. Salah satu energi alternatif yang dapat menggantikan bensin adalah etanol. Namun etanol masih belum banyak dikembangkan karena hanya dapat digunakan apabila etanol tersebut murni tanpa ada campuran air. Untuk memurnikannya, diperlukan energi yang besar dan harganya dapat melebihi harga bensin.

Berangkat dari hal tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P) ADA KAMI (Adsorben Abu Sekam Padi) yang beranggotakan Ari Purnomo, Misbahudin Alhanif, Chusnul Khotimah, Ummi Az zuhra, dan Bellatrik Rahma Putri berhasil mengembangkan zeolit yang dapat memurnikan etanol dan dapat dijual dengan harga yang lebih terjangkau. “Terbukti itu lebih murah bahkan nanti kita asumsikan setelah menggunakan hasil penelitian kami etanol yang dihasilkan bisa dijual dengan harga Rp 5 ribu saja,” ujar Ari Purnomo, Ketua Tim PKM-P ADA KAMI.

Ari menyatakan bahwa pengembangan zeolit yang berasal dari abu sekam padi tersebut dapat menghasilkan etanol dengan kemurnian mencapai 99% sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor untuk menggantikan bensin. “Penelitian kami dapat memurnikan etanol dengan mudah. Tidak perlu dipanaskan atau diuapkan. Etanol hasil fermentasi hanya tinggal dimasukkan zeolit kami yang berasal dari abu sekam padi selama 2 jam. Kemudian disaring, lalu dipanaskan, sudah jadi etanol,” ujar Ari.

Terkait penelitiannya, lebih lanjut, Ari menjelaskan penelitian zeolit yang berasal dari abu sekam padi berhasil menjawab empat tantangan yang belum terselesaikan. “Yang pertama, masalah membutuhkan energi yang tinggi. Kedua, banyaknya adsorben (bahan untuk menyerap etanol) yang digunakan. Ketiga, waktunya singkat, hanya 2 jam. Penelitian sebelumnya biasanya membutuhkan waktu hingga 12 jam. Terakhir, hasil fermentasi etanolnya bisa langung diserap. Sementara penelitian terdahulu harus dimurnikan dulu sampai 99% baru diserap sisa airnya. Jadi disini penelitian kami menyelesaikan 4 masalah,” jelas Ari.

Ari beserta timnya berharap penelitiannya dapat segera dipatenkan dan dapat diterapkan oleh Pertamina yang memiliki bagian pengembang industri biofil. “Kami menawarkan biar bisa scale up ke pilot plane karena nilai oktannya sudah mencapai 118,” ujar Ari. (Chibo, Iga/Manunggal)