Gedung Baru, Nasibnya Belum Menentu

Lahan yang dulunya hanya terdapat pohon-pohon dan belukar, hampir satu tahun ini telah didirikan sebuah gedung bertingkat di atas lahan tersebut. Gedung baru Laboratorium Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang selesai dibangun pada awal tahun 2017, hingga saat ini masih belum digunakan.

ManunggalCybernews–Pada awalnya, gedung tersebut didirikan sebagai laboratorium masing-masing program studi (prodi). Namun sampai saat ini, gedung tersebut belum ditempati. Mengenai ketersediaan fasilitas gedung laboratorium tersebut, Suharyo, Wakil Dekan II FIB, mengatakan ketersediaan perlengkapan masih dalam proses perencanaan.. “Direncanakan Insya Allah, kalau tidak dalam dua bulan terakhir ini, kalau memang universitas membolehkan,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Suharyo, mengenai kesiapan gedung untuk laboratorium bahasa Inggris dan ditambah laboratorium perpustakaan, akan mulai beroperasi tahun depan. “Insya Allah tahun depan untuk lab bahasa Inggris ditambah kemungkinan juga ada lab perpustakaan untuk prodi perpustakaan,” ujarnya.

Sebelum dibuka secara resmi, gedung tersebut akan diperiksa terlebih dahulu oleh para ahli yang berasal dari karyawan FIB. “Operatornya itu, yang dilatih dari tenaga pendidik (tendik) itu dua dan yang dari dosen seingat saya juga ada dua,” ujar Suharyo. Penggunaan tendik dari fakultas sendiri dipekerjakan agar tidak terjadi pembengkakan biaya.

Lebih lanjut, Suharyo menuturkan desain awal dari bangunan tersebut direncanakan untuk masing – masing program studi. “Dulu desainnya adalah untuk setiap prodi, tentu saja nanti prodi yang lebih tau. Karena yang mengetahui kebutuhan adalah prodi masing-masing,” terang Suharyo.

Meskipun begitu, gedung ke-empat yang berada di kawasan FIB tersebut tidak hanya sekedar pemenuhan kebutuhan tiap prodi, tapi juga salah satu penunjang akreditasi. “Nah, salah satu di antaranya adalah pengadaan lab untuk indikator penilaian akreditasi,” jelasnya.

Anisah Chamalia, mahasiswi jurusan Sastra Indonesia angkatan 2015 mengatakan masih belum mengetahui keadaan gedung baru tersebut. ”Karena belum berjalan secara maksimal ya jadi belum bisa dikatakan apa sudah baik atau belum sih kalau untuk keberjalanannya,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Anisah, tata cara peminjaman atau penyewaan gedung diharapkan tidak dipersulit. “Harapannya tidak dipersulit saat mahasiswa akan menggunakan gedung, semoga gedung yang baru jangan cepet rusak dan lebih enak ketika akan dipinjam dan lebih dipermudah,” ujarnya.

Selain sarana dan prasarana yang ada dalam gedung laboratorium baru tersebut, diharapkan akses untuk menuju gedung lebih mudah. Hal itu karena akses untuk menuju ke lokasi gedung hanya dapat dilewati dari satu jalur, sehingga menyulitkan mahasiswa yang ingin menuju ke gedung tersebut. “Aksesnya kan memang bisanya dari belakang dan gak bisa langsung kesana. Harapannya lagi adalah dibuatkan jalan langsung kesana jadi gak perlu ribet-ribet muter dulu lagi buat kesana,” tambah Anisah.

 

Versi cetak artikel ini terbit di buletin Joglo Pos Edisi VI/Tahun XVII 14 Desember – 14 Januari 2017 di halaman 4 dengan judul “Gedung Baru, Nasibnya Belum Menentu”.