Garudaku Mangkrak

Ada catatan kecil yang pantas diberikan untuk para pemegang kebijakan kampus. Seharusnya kita ingat kalau untuk mendapat reputasi tidak perlu dengan buang-buang anggaran. Lihat kembali niat membangun monumen itu, baik tujuannya, peruntukannya dan bermanfaat atau tidak? Jika dinilai tidak bermanfaat alangkah baik dijual saja atau dilelang. Sehingga nantinya uangnya dapat digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.

Ironis memang, bahwa khazanah yang telah dimatangkan menjadi sebuah karya yang diakui MURI tidak dilihat sebagai kekayaan yang luar biasa. Orang boleh berdebat tentang siapa yang paling bertanggung jawab atas perilaku mubazir ini. Dan tidak harus menjadi sarkastik untuk menilai, ternyata eksistensi masih menjadi seremonial nalar oportunis kekinian bertajuk identitas.

Sebagian mahasiswa berhak menyebut ini hal yang wajar, namun kondisi ini membuktikan Pancasila di lingkungan kita masih disandarkan pada simbolis-dogmatik saja dan belum sampai pada indoktrinasi. Hal Ini sangat rentan, jika lambang garuda sebagai perwakilan Pancasila hanya menjadi alat dongkrak yang dipakai kalangan tertentu sebagai instrumen otoriterian.

Padahal sejatinya, Pancasila lebih dari simbol. Menurut Fadhly Azhar Kabid Keagamaan HMPI, Pancasila bersifat immaterial yaitu menjadi daya yang sejalan dengan spiritual keilahian dalam membangkitkan potensi moralitas dan intelektualitas secara sinergis dan berkesinambungan. Dan apabila pancasila sudah menjadi nalar-indoktrinatif hingga sampai tertanam dalam perilaku, maka secara aksiologi Pancasila telah berhasil menjadi nafas kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka tak perlu lagi pamer punya “burung garuda” paling besar.

Faqih Sulthan

Mahasiswa Departemen Sastra Indonesia

Fakultas Ilmu Budaya

Pages 1 2