Garudaku Mangkrak

(Dok. Istimewa)

Keluar dari perselisihan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Oktober besok. Belum lama ini di acara penutupan Orientasi Diponegoro Muda (ODM), Undip berhasil menambah koleksi rekornya yang ke-17 berupa rak buku yang berbentuk replika Garuda Pancasila dengan tinggi 6,7 meter, lebar 5,4 meter dan tebal 8 sentimeter. Monumen ini sekaligus menyumbang rekor ke-8025 di Museum Rekor Indonesia (MURI). Dilansir dari jateng.tribunnews.com, rak yang diakui mampu menampung 1.000 buku ini sempat digadang-gadang oleh Rektor Undip sebagai simbol persatuan Indonesia karena besi-besinya diusahakan datang dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu rencananya rak ini akan digunakan untuk tempat pengumpulan buku-buku guna disumbangkan ke sekolah-sekolah di daerah.

Kini nasib rak garuda itu tak ada kejelasan. Monumen yang dulu dibanggakan berubah menjadi potongan-potongan besi yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan UPT, Widya Puraya. Sungguh malang nasib monumen ini. Selama kurang lebih satu bulan BEM Undip merancang replika tersebut. Niat baik seperti yang disampaikan Ketua BEM Undip, Jadug Trimulyo, bahwa rak buku ini dibuat karena memiliki nilai guna, bukan sekadar pajangan. Pada akhirnya setelah penyerahan dari BEM ke Rektorat sampai saat ini belum ada pihak yang bisa memberikan keterangan bagaimana riwayat garuda ini selanjutnya.

Setelah sebelumnya Undip dipanaskan dengan munculnya poster provokatif Garudaku Kafir. Sepertinya Undip sedang membangun lagi reputasinya sebagai kampus yang pancasilais. Mahasiswa kemudian beranggapan bahwa rak garuda raksasa ini lebih dari sekadar ikhtiar mensyiarkan anutan sebuah konsep estetis simbol negara. Namun, betapa pun bukan klise, karya yang menggunakan idiom persatuan sebagai tema utamanya. Justru menjadi satire saat mangkraknya monumen garuda ini menunjukan gagalnya kesadaran merawat dan memaknai narasi pancasila.

Pages 1 2