For Revenge Mengantarkan Kita pada Fase Orgasme

For Revenge bersama Wira Nagara dalam lagu Perayaan Patah Hati disertai kutipan sajak. (Sumber: Instagram @forrevengeofficial)

Musik Lagu-lagu bergenre post-hardcore/emo nampaknya kurang digandrungi oleh penikmat musik pada era sekarang ini. Para remaja (termasuk saya) kebanyakan memilih lagu indie dengan alunan musik slow yang cocok dipadukan dengan senja dan kopi untuk didengarkan kala kasmaran ataupun galau. Beberapa hari yang lalu, saya iseng memutar unggahan “For Revenge – Perayaan Patah Hati (Official Video) ft. Wira Nagara” yang terpampang di beranda YouTube. Untuk kesekian kalinya, saya yang buta akan dunia musik jatuh cinta pada lagu yang disuguhkan. Namun, untuk pertama kalinya, saya menyukai lagu bergenre post-hardcore.

Mungkin terlihat bodoh atau kurang nyeni jika saya mengakui; “lagu tersebut sesuai dengan keadaan saya saat ini” sebagai alasan untuk jatuh cinta. Sama seperti seseorang yang berani jatuh cinta hanya karena memiliki beberapa persamaan meskipun mereka belum saling mengenal. Lupakanlah hal tersebut! Kita coba tengok konsep yang disuguhkan For Revenge pada lagu Perayaan Patah Hati, sekaligus dua lagu lainnya yakni Derana dan Serana. Jujur saya belum pernah menulis ulasan terkait hal apapun, termasuk musik. Apalagi saya benar-benar buta terhadap dunia musik dan hanya mengandalkan rasa suka. Jadi apabila teman-teman kurang setuju dengan ulasan saya, tidak masalah.

Kembalinya Boniex Noer kepada For Revenge pada akhir tahun 2019 silam disambut baik oleh para penggemar ―setidaknya itu yang saya tangkap dari beberapa komentar di YouTube. Berbekal formasi baru: vokal/Boniex, guitar/Arief, drum/Chimot, bass/Izha, For Revenge langsung tancap gas untuk merilis dua lagu sekaligus pada Februari lalu. “Unik,” begitu gumam saya saat membuka akun YouTube FORREVENGEVEVO dan melihat lagu berjudul Derana dan Serana. Ternyata kedua kata ini memiliki arti yang berlawanan; derana berarti tahan dan tabah menderita sesuatu, sedangkan serana bersinonim dengan kata merana.

“Premisnya tuh ada dua pasangan ―mungkin maksudnya ada dua orang yang menjadi pasangan, salah satunya depresi dan pasangannya nggak tahu kalau dia depresi,” ujar Boniex dalam video berjudul “The Making of Derana//Serana Music”. Dalam lagu yang saling berkaitan ini, konsep video yang dibawakan bisa dibilang sederhana, yakni menggunakan storyline yang sama dalam dua lagu dan video berbeda. “Konsep besarannya adalah bagaimana kita menggabungkan dua lagu ini dalam satu video klip yang storylinenya sama,” tambah Boniex.

Derana, seorang laki-laki yang diperankan oleh Tanta Ginting merupakan sosok yang memiliki gangguan mental. Hal ini dapat diketahui dari liriknya yang berbunyi, “Sang derana (dan para penyintas)// Bergegaslah (yang terselamatkan)// Menunggu ditemukan”. Melalui komposisi musik yang keras dan lantang, For Revenge nampaknya memang sengaja mendorong emosi para pendengar supaya tetap berlari di atas bumi dengan segala pengharapan. Pada lagu Serana, pengaturan musik agaknya lebih ditekan (calm). Mengingat Serana ―diperankan oleh Shenina Cinnamon, memang mengusung tema patah hati.

Jika kau merasa sepi

Kembalilah ke tempat ku menanti

Sebelum waktu menuntut mati

 

Beri tahu aku cara melupakanmu

Seperti kau ajarkan ku dewasa

Beri tahu aku cara merelakanmu

Seperti kau ajarkan ku bahagia

 

Izinkan ku membenci pada sang pengganti

dan yakinkan ku bahwa kau telah temukan yang kau cari

 

Begitu mendengar lirik dan komposisi musik yang pas, saya benar-benar merasakan sakit hati yang nyata. Kalimat sederhana namun mampu mengantarkan pendengarnya pada katarsis. Benar saja. Dari tiga lagu yang telah dikeluarkan, sampai saat ini Serana memiliki jumlah penonton paling banyak daripada lagu yang lain, yakni 1,1 juta penonton. Perasaan ini juga dirasakan dan diakui oleh Izha selaku pemain bass, “orgasme paling pecah selama gue di For Revenge,” ungkapnya.

Kemudian pada 17 Agustus, For Revenge kembali mengeluarkan lagu baru yang berkolaborasi dengan Wira Nagara. Sebenarnya lagu ini yang mengantarkan saya pada dua lagu sebelumnya. Mengusung konsep pembacaan sajak oleh Wira Nagara yang kemudian dilanjutkan lirik lagu, penikmat musik dibuat geleng-geleng kepala secara spontan. Bagaimana tidak, sajak yang dibacakan amat sastrawi dengan majas-majas yang membuat gelisah —entah karena tidak paham atau karena maknanya yang sangat dalam.

….

Namun apa daya, katamu aku bukan lagi cahaya

Aku bukan lagi alasanmu menapaki dunia

Kau pergi dalam sesak penuh tanya

Sebelum aku bisa menawarkan manis untuk setiap lara yang kau derita

…..

Datanglah, walau merupa duri yang menambah darah

Walau menjelma buih yang mengorek nanah

Kau akan tetap ku sambut dengan perayaan paling meriah

 

Melalui lirik di atas, Wira Nagara dan For Revenge nampaknya sengaja menawarkan diri untuk membuat “Perayaan Patah Hati” yang paling meriah bersama para pendengarnya. Ya, dengan keseluruhan video yang berkonsep hitam putih dan dengan musiknya yang memacu ereksi jantung, saya benar-benar merasa memiliki teman untuk mengungkapkan perasaan.

Penulis: Aslamatur Rizqiyah

Editor: Alfiansyah, Winda Nurghaida

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *