Festival Kota Lama, Wujud Unik Kota Semarang

Pameran kenangan sebagai salah satu pameran yang di pertontonkan di Festival Kota Lama, Minggu (23/09). (Zihan/Manunggal)

Sebagai wujud untuk mencapai misi sebagai world heritage dengan meramaikan Kota Lama, Asosiasi Masyarakat Bangun Oudestad (AMBO) menyelenggarakan kembali Festival Kota Lama pada Kamis (20/09) sampai Minggu (24/09) di Jln. Cendrawasih kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah.

Acara yang merupakan agenda tahunan sejak 2012 ini mengusung tema yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. ‘Kuno, Kini, Nanti’ menjadi tema yang diangkat tahun ini. “Kuno diambil karena terdapat banyak bangunan kuno, supaya tidak melupakan sejarah, bangunan, dan budaya-budayanya. Agar orang zaman sekarang lebih aware, mengerti, supaya tidak mengulang kejadian yang sama,” ujar Edo Kurniawan, ketua pelaksana Festival Kota Lama 2018.

“Hari pertama, ada acara dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Hari kedua, ada tari tradisional. Hari ketiga, ada Pak Ganjar dan Bu Ayu sebagai perwakilan dari kota Semarang, yang dimeriahkan oleh full jazz. Hari keempat, ada dari Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah dan juga ada jambore ekonomi kreatiif,” ungkap Edo.

Situasi pasar sentiling di Festival Kota Lama 2018, Minggu (24/09) bertempat di kawasan Kota Lama semarang. (Zihan/Manunggal)

Untuk menarik pengunjung, ada hal menarik di Festival Kota Lama tahun ini, yaitu penggunaan uang khusus yang digunakan untuk transaksi jual beli di food tenant. Pengunjung dapat menukarkan uang mereka dengan uang kertas khusus yang dikeluarkan panitia di tiga loket yang berbeda. Uang kertas didesain dengan hal – hal yang identik dengan Kota Lama  disertai nominal yang berbeda beda, mulai dari satoe roepiah, lima roepiah dan seterusnya. “Ini merupakan gimmick supaya di festival kali ini ada marchindase untuk pengunjung,” ujar Edo.

Edo berharap dengan adanya Festival Kota Lama ini semoga kedepannya Kota Lama lebih baik lagi. “Harapannya, semoga kedepannya lebih baik lagi, bisa memberi rezeki masyarakat sekitar, seperti para Pedagang Kaki Lima (PKL). Situasi Kota Lama yang dulu sempat dilupakan, agak kumuh, kriminalitas tinggi, semoga bisa lebih baik lagi kedepannya,” jelasnya. (Indah, Zihan/Manunggal)