Dzakki-Arif: Kalau Ingin Undip Lebih Baik, Tentukan Pilihan

(Foto: Nina/Manunggal)

(Foto: Nina/Manunggal)

Sejak kapan Anda berniat mendaftar sebagai calon? Bagaimana prosesnya?

Dzakki: Jadi, dari teman-teman lintas fakultas, kan aku LKMM-D di Teknik terus ada juga teman-teman dari fakultas lain, awalnya sepakat membentuk suatu forum untuk memunculkan sebuah nama. Ya mungkin minus dua minggu atau seminggu aku yang diminta maju dari forum tersebut.

Forum apa itu?

Dzakki: Kalau ditanya forum apa ya itu sebagian anak LKMM-M, ada yang LKMM-D, ada yang teman SMA, pokoknya anak-anak Undip aja sih.

Bagaimana kalian bisa berpasangan?

Dzakki: Waktu itu kan kita menganalisis SWOT, cari plus minus dari BEM sekarang. Sosok kayak bagaimana sih yang kita perlukan? Nah, ketika namaku yang dikeluarkan, kekuranganku apa, setelah hasil SWOT, Arif adalah yang memiliki kriteria itu. Misalnya seperti aku adalah orang yang cepat berbaur dengan orang lain, tapi aku kurang rapi dan segala macamnya. Arif ini adalah orang yang bisa melengkapi. Jadi memang karena plus minus itu.

Arif: Jadi awalnya ketika saya mendengar tentang saudara Dzakki ini dari teman-teman forum, ternyata katanya teman-teman meminta aku untuk jadi wakilnya. Aku langsung mengiyakan. Apalagi aku rasa visi misi kami selama ini dalam keseharian pun sama. Orientasi kita juga sama untuk Undip. Cara berpikir sama. Jadi, maka dari itu aku rasa nggak ada masalah untuk ditanyakan karena aku rasa udah cocok udah di awal.

Kedua calon wakil ketua dari dua pasangan calon berada di fakultas, bahkan program studi yang sama. Apakah hanya suatu kebetulan?

Arif: Bicara soal kebetulan atau nggak, sebenarnya tidak kebetulan ya karena sekitar tanggal 8 Oktober sempat berbicara dengan Aang. Tadinya kan Aang mau ke FT, sempat mau jadi calon di Teknik, cuma waktu itu Aang masih ragu mau ke Teknik atau Undip. Saat itu aku jelaskan bahwa aku sudah ditawarkan bergabung sama Dzakki karena satu visi. Jujur saja memang aku duluan yang maju ke BEM Undip. Dari situ aku menangkap bahwa Aang ada orientasi maju ke BEM Undip juga. Dari situ aku ngobrol sama Aang, jika kita dua-duanya maju, berarti kita sama-sama sudah diamanahkan dan dipercaya. Kita bermain sehat dan alangkah baiknya memang begitu. Dari jurusan kita pun tidak ada masalah dan saling mendukung semua. Justru ini momentum awal bahwa Perkapalan itu ternyata mahasiswanya ternyata ada yang seperti ini, ada yang peduli lebih.

Senat dan BEM merupakan dua badan yang berbeda. Setahun terakhir, calon ketua dari pasangan nomor 2 berada di Senat. Bagaimana cara Anda mempelajari karakteristik BEM?

Dzakki: Dua tahun ke belakang saya juga di BEM. Kebetulan saya di PSDM dan saya juga sering main sama ketua BEM-nya. Waktu saya naik ke Senat pun saya meminta masukan ke ketua BEM dan ke ketua Senat sebelumnya. Kalau ditanya perbedaan sih saya sudah paham perbedaan fungsi dan jenisnya. Jadi kalau dibilang kaget atau nggak insya Allah sih nggak, karena dua tahun ke belakang sudah di BEM.

Program unggulan apa yang dimiliki pasangan calon nomor 2?

Dzakki: Sebenarnya di tiap bidang sudah ada goal-nya. Kalau yang beda banget, salah satunya adalah kami menginisasi adanya panggung bebas, yaitu sebuah konser amal yang nantinya diisi anak Undip semua, dari lintas fakultas. Harpaannya, hasilnya bisa digunakan teman-teman untuk pengabdian masyarakat. Kenapa kita minta anak Undip semua? Supaya anak Undip memiliki wahana untuk berekspresi  dan yang mengapresiasi anak Undip juga. Seni merupakan sebuah elemen yang bisa menyatukan, baik masyarakat maupun mahasiswa. Kita bersatu dengan seni, dan itu yang nantinya harapannya bisa menurunkan ego fakultas-fakultas dan meningkatkan intensitas komunikasi antar fakultas.

Kalau di ekonomi kita berusaha membawa koperasi, soalnya mahasiswa Undip banyak yang punya unit usaha kecil menengah. Tetapi, sangat jarang yang mengerti konsep koperasi. Kita ingin memperkenalkan konsep koperasi lagi. Jadi teman-teman nanti bisa bikin badan usaha koperasi, bukan lagi komersil. Kalau komersil kan untuk keuntungan pribadi, kalau koperasi untuk kesejahteraan. Ini dua konsep yang berbeda. Kemarin aku abis baca buku lagi tentang koperasi, dan harusnya sih itu bisa menjadi salah satu tonggak ekonomi di Indonesia. Itu dikolaborasikan juga denganekonomi kreatif yang digagas presiden Jokowi.

Sebenarnya Undip sudah punya wahananya, namaya Pusat Inovasi Bisnis dan Teknologi (PIBT).  Ini lagi dirintis sama Undip. Koperasi itu sebuah bentuk badan usahanya, ekonomi kreatifnya dan PIBT itu menginisasi untukuntukmembuat usahanya. Jadi barang-barang yang dijual itu merupakan hasil inovasi bisnis dan teknologi tersebut, tapikita wadahi dengan koperasi

Sebelumnya di Undip sudah ada koperasi. Rektor belum berniat menghidupkan koperasi kembali, karena resikonya besar. Lalu, jika Anda terpilih, bagaimana cara melakukan lobbying pada Rektorat untuk membangun koperasi lagi?

Dzakki: Saya sempat tanya-tanya lagi ke pihak Rektor, kondisinya kenapa. Sebenarnya, kalau mau jujur-jujuran, itu salah anak Undip ya karena dalam pengelolaannya ada yang korupsi. Terkait rektorat belum bisa menjamin ada atau tidak, dari konsep ini, kalau tidak bisa membawa nama Undip karena harus bayar hutang berapa ratus juta itu—aku lupa nominalnya, pokoknya senilai harga rumah—paling nggak kita memberi pencerdasan ke mahasiswa yang berwirausaha untuk menggunakan konsep koperasi, meskipun nggak bawa nama Undip.

Dari mana asal dana kampanye yang kalian gunakan?

Arif: Jujur itu ada yang dari dana pribadi aku sama Dzakki, dan juga ada dari teman-teman timses dan teman-teman fakultas. Sebenarnya dari kita sendiri pun dalam mencanangkan harga sangat kecil, nggak sampai melambung besar. Setelah dihitung-hitung kita habis kurang lebih 2 juta, dan itu dananya hasil dari iuran kita berdasarkan keikhlasan. Jadi kita memang nggak mematok harus segini segitu. Keseluruhan, nggak sampai 2 juta malah kayaknya.

Isu kampus apa yang menurut kalian perlu menjadi fokus BEM Undip ke depan?

Dzakki: Aku sama Arif sepakat, jangkar Undip ini di pendidikan. Soalnya memang arah pendidikan Undip, khususnya bagi saya pribadi, itu ke arah neoliberal. Kenapa? Karena PTN BH ditafsirkan hanya semata-mata sebagai otoritas keuangan. Padahal ada otoritas akademik dan non-akademik. Tetapi,teman-teman kurang suka menyoroti bagian akademik. Ketika kalian ngomongin SARA dalam koridor keilmuan, itu halal. Itu sah-sah saja. Tapi teman-teman cuma berpikir PTN BH boleh mengelola uang sendiri. Aku pengen mengangkat itu lagi dan memberi pencerdasan bahwa PTN BH itu nggak cuma soal keuangan saja.

Kalau nasional, saya paham betul bahwa UU pendidikan Indonesia belum ada. Ini saya sebagai orang hukum mempertanyakan karena siswa dan tenaga pengajar kan harus diberi perlindungan. Tapi belum ada UU yang menjawabnya. Ini yang ingin saya bawa, cita-cita saya sih. Kalau nanti dibilang BEM bisa bikin UU, ya nggak mungkin. Tapi kalau bisa lewat BEM, kenapa nggak?

Apa yang membedakan calon no. 2 dengan calon lain?

Dzakki: Dari kemarin ketika ngobrol-ngobrol aku tahu kalau Aang suka turun ke basis massa, maksudnya ya kegiatan ikut aksi dan sebagainya. Kalau Jadug aku belum pernah dengar dia ikut aksi. Mungkin aku kurang mengenal dia, tapi aku memang belum pernah dengar. Waktu aksi UKT SPI setahuku dia nggak ikut, coba mungkin bisa ditanyakan lagi. Kalau terkait riset aksi, aku sedang belajar. Di misi pertama kami ada humanopolistik. Kemarin ada teman yang mengajarkan pengabdian berbasis monopolistik. Kenapa aku bilang kelebihanaya di situ? Karena pada saat pengabdian masyarakat, hasil risetnya dapat diterapkan. Kalau ditanya kelebihannya apa, ya sebatas aku suka turun ke basis massa..

Jika nanti terpilih sebagai Ketua BEM Undip, apa yang ingin Anda dapatkan dari posisi tersebut?

Dzakki: Saya punya cita-cita untuk membuat UU pendidikan. Salah satu yang ingin saya perjuangakan ya itu, kalau dari saya pribadi. Kalau dibilang kepentingan pribadi, ya ini memang cita-cita saya. Kalau seandainya kalah, toh dalam memberikan kebermanfaatan kan nggak harus dalam nama organisasi.

Pada realitanya, masih banyak mahasiswa yang kurang menyadari atau pun merasakan manfaat BEM. Bagaimana strategi anda untuk mengatasi permasalahan tersebut?

Arif: Itu aspek partisipatif dari mahasiswa Undip sendiri yang perlu kita angkat. Berarti apa? Kita harus komunikasi dan koordinasi. Komunikasi dan koordinasi selama dibangun BEM Undip sudah cukup baik, namun belum sampai ke tingkat terkecil seperti jurusan, UPK. Itulah yang akan kita kawal terus supaya partisipasi dari mahasiswa timbul, wah ini ternyata BEM Undip turun langsung, kita ada di samping mereka terus. Kita ada program dan mereka terlibat. Saya rasa tingkat partisipatif dari mereka sendiri bakal tumbuh.

Jika kalian menang, apakah kalian bersedia menggandeng pasangan lawan?

Arif: Menggandeng atau enggak, harusnya memang selayaknya seperti itu. Kalau berdua saja, itu masih kurang ya. Kalau kita menggandeng, ya itu baik, tapi dalam artian konotasinya ke arah mana. Jadi kita tetap mengedapnkan profesional juga, nanti kabinetnya seperti apa. Kalau dari mereka ingin bergabung, kita tetap profesional dan menyaring juga. Kalau misal tidak ingin masuk kabinet tapi ingin membantu kita dari luar, dari program, ya kita terbuka. Jangankan untuk pasangan calon ya, tapi juga untuk mahasiswa Undip lain, kita terbuka.

Bagaimana jika kalian kalah?

Arif: Tetap konsisten. Kalau niat kita memajukan Undip kan nggak harus dari internal, kita bisa dari luar. Kita tetap menyampaikan aspirasi. Kalau saya sendiri ada concern ke maritim bersama kawan-kawandari maritim seluruh Indonesia, dari ITS, membangun Undip denganconcern ke maritim. Kalau dari aku pribadi seperti itu.

Apa pesan untuk mahasiswa Undip?

Dzakki: Ini ngutip aja dari salah satu presiden Jerman. “Ketika orang baik memilih diam dalam politik, maka jangan heran jika politik tidak baik”. Untuk teman-teman yang memilih apatis, jangan sampai kayak gitu. Kalau kalian ingin mengubah Undip lebih baik, tentukan pilihan aja, terlepas itu pilihan no. 1 atau 2.