Dari Karya Sastra Berujung Pemecatan

Ilustrasi: Desain Manunggal

Sebagai negara yang menerapkan sistem demokrasi, pers menjadi salah satu elemen penopang berdirinya pilar tersebut di Indonesia. Demi menjalankan beberapa peran yang salah duanya adalah sumber informasi dan kontrol sosial, pers memiliki hak yang diberikan oleh konstitusi yaitu kebebasan pers (freedom of the press). Di Indonesia sendiri hak tersebut diatur dalam UU Nomer 40 Tahun 1999 tentang Pers, yang di dalamnya terdapat beberapa hal seperti kemerdekaan pers yang merupakan hak asasi warga negara; pers tidak dikenakan penyensoran, pemberedelan atau pun pelarangan; hingga pers memiliki hak menyebarkan sebuah gagasan.

Namun, belakangan ini kebebasan pers harus tercoreng. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara USU mendapat intervensi dari Runtung Sitepu, Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), karena dianggap menyebarkan cerita pendek (cerpen) bertemakan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Mengutip dari beberapa artikel tirto.id, intervensi tersebut bermula dari situs suarausu.co milik LPM Suara USU yang mengalami suspensi setelah rektorat meminta pengurus mencabut cerpen berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya”. Mereka juga mendapatkan acaman pembubaran jika cerpen tersebut tidak segera mencabut cerpen tersebut.

Tidak hanya itu, Suara USU yang teguh dalam pendiriannya –karena memang kebebasan pers dilindungi oleh konstitusi, baru-baru ini 18 kru mendapatkan surat pemberhentian
kepengurusan oleh Rektor USU –berdasarkan SK 1319/UN5.1.R/SK/KMS/2019 Tentang
perubahan SK pengangkan kepengurusan LPM Suara USU. Dikutip dari trito.id, pemecatan itu diakui Rektor USU, Runtung Sitepu saat dikonfirmasi reporter Tirto, Selasa (26/3). Namun, kata dia, Suara USU tidak dibekukan dan akan merekrut anggota baru.

Tindakan ini menimbulkan solidaritas dan kecaman dari nasional bahkan internasional. Salah satunya datang dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan. Dikutip dari nasional.tempo.co, AJI Medan mendesak Dewan Pers turut andil dalam penyelesaian kasus ini,
mengingat persma termasuk dalam kuadran ke dua yang merupakan kelompok media yang tak terverifikasi di Dewan Pers. “Tapi isi beritanya memenuhi standar jurnalistik dan kode etik jurnalistik,” ucap Dewantoro, Koordinator Bagian Advokasi AJI Medan.

Jika kita cermati lebih lanjut, pokok permasalah utamanya adalah sebuah cerpen yang oleh Rektor USU diinterpretasikan pro-LGBT, karena tokoh utamanya seorang lesbian. Padahal menurut Budi Darma, “sastra merupakan dunia jungkir balik”. Apa yang ada dalam dunia sastra belum tentu senada dengan realita dan justru besar kemungkinan berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Seorang penulis memiliki kebebasan untuk menciptakan dinamika tersendiri dalam karya sastranya. Seperti halnya dalam puisi yang memiliki licentia poetica, karya sastra juga mengenal genre surealisme yang menghadirkan kontradiksi antara dunia dalam karya sastra dan dunia nyata.

Ivan Lanin juga pernah mengatakan bahwa sebuah kata itu bersifat netral, tafsir manusialah yang membuatnya berpihak. Jika dikaitkan dalam hal ini, penulis cerpen “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya” sah-sah saja menciptakan tokoh berorientasi seksual berbeda. Yael, penulis cerpen, dalam artikel nasional.tempo.co menuturkan bahwa cerita pendek yang dibuat tidak bermaksud mendukung penyebaran kelompok LGBT. Tapi tujuannya menulis cerpen tersebut untuk melawan proses diskriminasi yang terjadi terhadap golongan minoritas. Kelompok LGBT diangkat hanya untuk menjadi contoh saja.

Sampai disini dapat dipahami bahwa permasalah utama di sini hanyalah perihal perbedaan interpretasi. Namun, tindakan yang diambil Rektor USU seakan tidak mencerminkan kebebasan
berekspresi dan juga mencederai kebebasan pers dengan adanya berbagai intervensi hingga pemecataan.

Oleh karena itu, jajaran redaksi dan pengelola LPM Manunggal Undip menyatakan solidaritas dan dukungan penuh kepada LPM Suara USU, serta mengecam kesewenang-wenangan Runtung Sitepu dan pihak-pihak yang mengupayakan pemecatan 18 kru LPM Suara USU. (Redaksi)