Club Motor, Bukan Berarti Geng Motor

(Dok. Istimewa)

(Dok. Istimewa)

Sepeda motor merupakan salah satu kendaraan yang biasa digunakan sehari-hari. Tak hanya sekadar alat tranportasi saja, bagi sebagian orang,  bersepeda motor dapat dijadikan sebagai hobi. Berawal dari hobi, sekelompok orang yang sama-sama menyukai sepeda motor RX-King pun membuat sebuah komunitas. Salah satunya adalah Club Of RX-King Semarang (CORS). Lantas, apa sajakah keistimewaan komunitas ini?

Awal mula

Banyaknya pecinta RX-King di Indonesia, khususnya di Semarang, melahirkan komunitas pecinta RX-King yang disebut Club Of RX-King Semarang (CORS). CORS sendiri mulai terbentuk sejak 27 April 2006.

Salah satu jenis yang menjadi favorit adalah Yahama RX-King. Yamaha RX-King pertama kali hadir di Indonesia 1983, merupakan penyempurnaan dari Yamaha RX-K 135, dengan penambahan YEIS (Yamaha Energy Induction System) yang membuat RX-King lebih irit bahan bakar sekitar 15% dari RX-K meskipun cc-nya sama. Selain itu diterapkannya Yamaha Computerized Lubrication System membuat RX-King semakin bertenaga hingga 5000 Rpm.

Jika dirunut dari sejarahnya, RX-King ini dibagi dalam tiga generasi. Generasi awal Yamaha RX-King atau yang biasa disebut King Cobra. Model King Cobra ini diproduksi antara 1983 sampai 1991. Generasi kedua biasa disebut King Master. Model ini diproduksi antara 1992 sampai 2001. Sedangkan generasi ketiga mulai 2002 disebut dengan New King. King generasi terakhir ini sudah memenuhi standar EURO (Eropean Emission Standards) yang merupakan batas emisi gas buang kendaraan versi eropa, jadi tidak mempunyai asap sebanyak pendahulunya karena knalpot dilengkapi catalic converter. Selain itu, desain bodi motor semakin modern dengan lampu bulat layaknya motor pendahulunya, Yamaha RX-100, namun lebih modern modelnya mirip vixion lama, dihentikan produksinya pada 2008.

Awalnya, CORS ini bernama SRC (Semarang RX-King Club). Namun SRC hanya berumur singkat. SRC mengalami vacum selama dua tahun, dikarenakan kesibukan masing-masing anggota yang dahulu hanya berjumlah 30 orang, hingga akhirnya pada 2008 komunitas ini dibentuk lagi dengan nama CORS. “Dulu SCR mempunyai citra yang buruk, terus ya cuma diubah aja SCR jadi CORS, dibalik saja, agar kedepannya bisa bagus,” tutur Anton, anggota CORS.

Pages 1 2 3