Cerita Prof Eko tentang Profesor Ateis

Seminar Nasional Psikologi Transpersonal-Spritual di Gedung Prof Soedarto Undip, Rabu, 9 Oktober 2013, dengan pembicara (dari kiri) Prof Eko Budihardjo, KH. Mustofa Bisri, dan Hastaning Sakti. (Dian/Manunggal)

Seminar Nasional Psikologi Transpersonal-Spritual di Gedung Prof Soedarto Undip, Rabu, 9 Oktober 2013, dengan pembicara (dari kiri) Prof Eko Budihardjo, KH. Mustofa Bisri, dan Hastaning Sakti. (Dian/Manunggal)

ManunggalCybernews – Budayawan Jawa Tengah yang juga Rektor Undip pada 1998-2006, Profesor Eko Budihardjo, selalu menekankan pentingnya ketakwaan pada generasi muda. Demi menguatkan nilai ketakwaan yang disampaikan, Prof Eko menyampaikan kisah ringan tentang seorang profesor ateis asal Amerika Serikat.

Sang profesor itu, kata Prof Eko mengawali kisah, menanyakan keberadaan Tuhan kepada mahasiswanya saat tengah mengajar. “Profesor itu bertanya, ’Adakah di antara kalian yang pernah melihat Tuhan? Adakah di antara kalian yang pernah bersentuhan dengan Tuhan?’” kata Prof Eko menirukan pertanyaan sang profesor,saat menjadi pembicara di Seminar Nasional Psikologi Transpersonal-Spiritual di Gedung Prof Soedarto Undip Semarang, Rabu, 9 Oktober 2013.

Mendengar dua pertanyaan sang profesor, seluruh mahasiswa terdiam tanpa mampu menjawab.Kemudian, sang profesor kembali bertanya, ‘Bila kalian tidak pernah bertemu dan bersentuhan dengan Tuhan, bagaimana bisa kalian mempercayai keberadaannya?’ Seluruh mahasiswa tetap diam.

Namun, seorang mahasiswa yang duduk di bangku belakang kelas, tiba-tiba berujar, “Kami juga belum pernah melihat otak Profesor. Apakah kami juga perlu meragukan kecerdasan Profesor?” Mendengar pernyataan mahasiswa itu, sang profesor ateis hanya terdiam.

Berkaca dari kisah itu, Prof Eko kembali meningatkan peserta seminar tentang pentingnya ketakwaan. Profesor itu, kata Prof Eko, menjadi cerminan orang yang takabur atau sombong. Prof Eko lantas menyampaikan perumpamaan atau bebasan Jawa yang menyoal ketakwaan, berbunyi ‘Tuhan iku adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan’. Bebasan itu artinya, Tuhan itu bisa sangat jauh dan tidak bisa dibayangkan, tapi juga bisa sangat dekat, biarpun tanpa bersentuhan.

Bila bangsa dan para pemimpin di negeri ini memiliki ketakwaan, kata Prof Eko, tidak akan ada yang berani korupsi atau menerima gratifikasi. “Mereka yang melakukan kejahatan itu, tidak paham kaidah Jawa ini,” ujar Prof Eko.

Selain Prof Eko, Seminar Nasional Psikologi Transpersonal-Spiritual juga mengundang budayawan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus dan psikolog Hastaning Sakti sebagai pembicara. Seminar itu menjadi rangkaian perayaan Dies Natalis Undip ke-56 yang bertema Berkarya dengan Empati. Seminar psikologi kali ini, menurut ketua panitia yang juga Dekan Fakultas Psikologi, Prasetyo Budi Widodo, menekankan pada pentingnya keluarga sebagai pendidik pertama bagi manusia dan spiritual sebagai pijakan utama manusia saat bertindak. (Dian/Manunggal)