Bumi Manusia: Kerumitan Pram dalam Kesederhanaan

Desain cover novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. (Sumber: mizanstore.com)

Sudah lama terniat oleh saya membaca Tetralogi Buru yang dimulai dengan novel ini, tapi tak benar-benar ingin karena harganya mahal. Seorang kawan dari jurusan sastra menguatkan, mengatakan bahwa itu karya yang pantas dibeli. Maka berikutnya buku ini ada di tangan saya, menghabiskan waktu selama di rumah saja.

Setelah sebelumnya saya pegang Harry Potter and the Deathly Hallows sebagai rekor novel panjang yang paling cepat saya baca (999 halaman dalam 6 hari, waktu kelas 8), akhirnya buku ini menggantikan tempatnya (535 halaman dalam 66 jam atau kurang dari 3 hari). Bukan masalah saya yang cepat membaca, tapi kekuatan dari cerita novel ini yang membuat saya tak mampu meletakkan.

***
Kenapa namanya Tetralogi Buru? Karena kisah ini diceritakan pertama kali secara lisan oleh penulis pada kawan-kawannya, ketika beliau diasingkan selama 10 tahun di Pulau Buru tanpa melalui proses pengadilan.

Cerita ini adalah roman yang di dalamnya terkandung; romansa yang menghanyutkan, membuat tertawa dan menangis serta berdebar dan lega; filsafat yang membuat kening berkerut untuk menyelami kondisi saat itu, dalam hubungannya dengan kondisi saat ini; sejarah; kritik langsung yang menyenangkan tentang budaya Jawa (saya orang Jawa dan saya meikmatinya); serta tentu saja kecaman atas perilaku tidak adilnya prilaku kolonialisme oleh Belanda.

Saya, sebagai penulis, ingin mengulas tentang beberapa kekuatan novel ini (hanya Bumi Manusia, tanpa tiga lainnya) sebagai prosa yang berpengaruh di Indonesia, dengan teknik-teknik menulis yang bisa diteladani.

Penokohan yang Ciamik

Aspek ini saya garis bawahi, karena memang itulah kekuatan terbesar novel ini. Tokoh adalah siapa-siapa saja yang ada dalam cerita, yang menjalankan cerita. Sedangkan penokohan adalah bagaimana penulis menyajikan tokoh itu ke hadapan pembaca. Kesan apa yang ingin dibentuk.

Penokohan novel ini menarik dan nyata. Semua tokohnya cacat; tak ada yang sempurna sebagaimana manusia biasa. Tokoh utamanya, Minke, bukanlah orang yang bisa segalanya atau benar-benar jagoan. Dia teguh pendirian, cerdas, tampan, penulis pula. Tapi masih ada kekurangannya sebagai pemuda yang membuat cerita ini menarik untuk diikuti. Begitupun tokoh-tokoh lain dalam novel ini memiliki karakteristik dan kekurangannya masing-masing, memiliki cerita dan sejarahnya masing-masing, hingga akhirnya mereka menjadi tokoh yang demikian.

Dalam menulis, penokohan menjadi penting. Dengan menggambarkan tokoh secara sederhana dan merasuk, pembaca akan merasa ‘memiliki’ tokoh tersebut. Secara tak sadar akan muncul perasaan bahwa pembaca memiliki hak untuk tahu apa yang terjadi pada si tokoh. Perasaan ini membuat pembaca tidak berhenti membaca. Hal inilah juga yang menyebabkan pembaca merasa sedih ketika si tokoh mendapat celaka, dan ikut senang ketika tokoh mendapat untung. Jadikan tokoh sebagai teman pembaca, dan emosi akan masuk dengan sendirinya.

Bagaimana? Orang bilang yang ditulis dengan hati akan sampai ke hati. Maka kita sebagai penulis perlu dahulu mengenal tokoh kita. Kenal betul luar dalam, tahu masa lalu, masa kini, dan masa depannya. Dalam bab-bab awal novel ini pun ada berlembar-lembar khusus untuk menceritakan sejarah seorang tokoh, berlembar-lembar lain menceritakan pengalamn tokoh lain, sehingga sebagai saya pembaca merasa kenal dekat dengan tokoh itu. Bagaimana mudanya, bagaimana dia bisa sampai pada kehidupan sekarang, bagaimana bisa memiliki sifat seperti sekarang.

Hal lain adalah teknik yang saya sarikan dari pikiran penulis kenamaan, J.D. Salinger. Dia berkata bahwa pembaca harus dibiarkan membayangkan, membangun dunianya sendiri di dalam cerita itu. Pram, ketika menggambarkan kecantikan Annelies pertama kali, hanya menggunakan kalimat:

…di depan kami berdiri seorang gadis berkulit putih, halus, berwajah Eropa, berambut dan bermata Pribumi. Dan mata itu, mata berkilauan itu seperti sepasang kejora; dan bibirnya tersenyum meruntuhkan iman …” (hlm. 26)

Di kesempatan lain, agak ke belakang, disebut, “Di jaman leluhurmu, perempuan seindah itu bisa terbitkan perang Bharatayuddha.” (hlm. 451)

Disadari atau tidak, Pram tidak menuliskan dengan rinci bagaimana kecantikan Annelies. Hal ini “memaksa” pembaca untuk membayangkan sendiri, sesuai standar cantik masing-masing. Penggambaran yang terlalu panjang dan rinci seperti;

…Dia adalah wanita tercantik yang pernah kulihat. Bola matanya hitam pekat seperti malam, dengan kelopak yang mengedip cepat seakan menangkapku dalam potret memorinya. Hidungnya mancung dan meruncing dengan indah, memayungi bibir merah muda dan penuh berbentuk seperti delima belah. Pipinya yang terbuka berwarna putih pualam, halus tanpa noda, menggembung ketika ia tersenyum….

Cenderung akan ‘memerangkap’ pembaca dalam standar kecantikan penulis. Padahal kan tidak semua pembaca menganggap hidung mancung dan bibir merah muda itu cantik? Maka dengan penggambaran sederhana seperti Pram, maka pembaca akan membayangkan cantiknya Annelies sebagaimana standar mereka sendiri. Batasnya hanya dua, “berwajah Eropa, berambut dan bermata Pribumi”. Jadi jelas kulitnya tidak hitam. Selebihnya, bagaimana rambut Pribumi? Bagaimanakah mata yang berkilauan seperti kejora? Pembaca tentukan sendiri dalam khayalan masing-masing.

Cara ini membuat pembaca semakin terikat, sehingga tanpa dipaksa, pembaca juga akan berpikir Annelies itu cantik, dengan detail terserah pembacanya sendiri.

Di kemudian cerita (hlm. 306) barulah digambarkan bahwa ujung rambut Annelies berwarna agak coklat jagung, alisnya tebal dan bulu matanya melengkung panjang dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi karena penggambaran sederhana di awal, maka pembaca telah menorehkan bayangan di kepalanya, dan bayangan ini takkan digantikan oleh penggambaran penulis yang kedua kali yang lebih rinci. Penggambaran tokoh yang sederhana pada permulaan, adalah agar pembaca merasa dekat dengan tokoh dan berbas berkhayal. Penggambaran yang rinci di pertengahan adalah penguatan saja, serta mungkin untuk memberikan kesan suatu sifat.

Sayangnya sampul buku ini menampilkan 4 tokoh dalam cerita, sehingga mengurangi imajinasi pembaca. J.D. Salinger takkan suka sampul ini.

Latar Sederhana namun Memikat

Tak bisa dipungkiri, latar mengambil peran besar untuk memberikan warna dalam cerita. Pendeknya, latar adalah panggung tempat cerita dijalankan. Sekurang-kurangnya ada tiga latar; tempat, waktu, dan suasana.

Bahasa dalam novel ini lawas, beberapa kata tidak saya pahami dan tidak saya temukan dalam kamus. Panggilan antartokoh juga menggunakan panggilan lama. Menambah kuat kesan latar waktunya yang tahun 1890an. Beberapa adegan kecil dimasukkan untuk menjelaskan bagaimana orang Belanda memandang rendah Pribumi, serta bagaimana ketatnya pemuda Jawa harus merangkak menyembah pada yang lebih tua.

Latar tempat dalam novel ini dijelaskan dengan baik, beberapa halaman dikhususkan untuk menggambarkan bagaimana luasnya perkebunan dan tempat apa saja yang ada di sana. Latar tempat baru dikurangi dan tidak dipanjang-panjangkan ketika latar suasana mendapat sorotan. Beberapa adegan mengambil tempat yang tidak dijelaskan dengan rinci, tapi latar suasana terbangun dengan hidup. Sehingga pembaca bisa membangun sendiri rincian tempat yang sesuai dengan suasana yang terbangun.

Alur Maju Tak Mesti Monoton

Saya bingung. Apakah alur novel ini maju atau mundur? Di awal cerita disampaikan,

Tiga belas tahun kemudian catatan pendek ini kubacai dan kupelajari kembali, kupadu dengan impian, khayal. Memang menjadi lain dari aslinya. Tak kepalang tanggung. Dan begini kemudian jadinya…” (hlm. 10)

Tapi setelah itu ceritanya maju runtut dan memiliki periode waktu yang berurutan. Cerita tentang masa lalu hanya dikisahkan lisan. Bahkan ada cerita yang tokoh utama ketahui belakangan, dia letakkan pada waktu yang sesuai urutan. Alur yang lurus maju ini memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Tapi Pram nampaknya mengatasi kekurangan itu; kebosanan. Meski ceritanya runtut dan maju, ada saja hal yang dialami tokohnya, yang membuat pembaca ikut merasakannya.

Spektakulernya Jalan Cerita

Aspek ini saya letakkan belakangan, karena ia sangat dipengaruhi tiga aspek lainnya. Cerita ini menjadi demikian luar biasa, mengobrak-abrik perasaan, melambungkan harapan dan menyobek nurani, adalah karena saya merasa hanyut dalam cerita ini. Tak lain karena kuatnya tiga aspek di awal. Jika dinilai jalan ceritanya dengan objektif (katakanlah saya tidak terhanyut), maka kekuatan ceritanya adalah pada kerumitan beban mental yang ditanggung tokoh-tokohnya. Sedikit banyak, hal ini menimbulkan empati sebagai sesama manusia. Hidup para tokoh dalam cerita ini separuhnya biasa, separuhnya luar biasa, dipadu dan diramu dengan baik oleh Pram sehingga menjadi cerita yang menarik, dengan atau tanpa empati.

Sebagai penutup, saya benarkan kata kawan saya yang jurusan sastra itu, bahwa buku ini layak dibeli. Levelnya memang bukan untuk semua umur, lebih baik dibaca orang yang sudah cukup dewasa. Dengan begitu pesan moral, gejolak rasa, serta gelitikan nurani bisa diresapi dan dirasakan dengan baik.

Saya –ikut-ikutan kawan saya itu– merekomendasikan novel ini sebagai bacaan ketika #dirumahaja.

Penulis: Muhammad Zaim Musyafiq
Editor: Alfiansyah, Winda N

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *