Bukan dengan Kondom

Oleh: Dr. H. M. Nurul Irfan, M.Ag, Dosen FSH UIN dan FH.UNPAM

Untuk mencegah aborsi dan kehamilan usia dini bukan dengan kondom tetapi dengan edukasi sedini mungkin tentang urgensi ilmu agama secara baik, menarik dan benar. Dalam sebuah pernyataan (hadis) riwayat Abu Ya’la dan Ibnu Sunni, Rasululullah SAW menegaskan bahwa barang siapa yang mendapatkan (melahirkan) anak, lalu diadzani di telinga kanan dan diiqamati di telinga kiri, maka dijamin sang bayi tidak akan pernah tersentuh jin yang bernama ummussibyan.

Urgensi Pendidikan agama sejak dini bahkan sejak sang bayi masih dalam kandungan dengan selalu menjaga kondisi emosi dan psikis seorang ibu yang sedang hamil, agar ia selalu membaca Alquran, bahkan di masyarakat barat ada anjuran agar ia sering mendengarkan musik-musik klasik. Hal ini tidak lain agar emosi jabang bayi bisa stabil, tenang dan baik. Lalu pada saat ia lahir perdengarkan suara adzan dan iqamah dengan kata “Allah” yang pertama kali didengar oleh telinga bayi mungil nan lucu itu. Kemudian disusul pelaksanaan walimatutasmiyyah, upacara syukuran dalam rangka memberikan nama bayi, diaqiqahi dan dicukur seluruh rambut bawaan lahirnya di hari ketujuh. Rambut bawaan bayi itu agar ditimbang lalu diukur seberat emas dan lakukan sedekah senilai emas yang sama beratnya dengan rambut bayi tersebut. Lalu cara memperlakukan tulang belulang kambing aqiqah bahkan cara memasak dagingnya juga dianjurkan dilakukan secara baik dan tertib, antara lain agar tulang-tulang kambing itu tidak dipecahkan, sebagai sebuah tafa`ul (mencari tularan baik) bagi si anak agar ia kelak tidak mengalami patah tulang dan dagingnya dimasak dengan bumbu yang dominan manis, agar akhlaq sang anak kelak bisa semanis rasa masakan daging aqiqah tersebut. semua rangkaian ajaran agama ini jauh lebih penting untuk disosialisasikan dan digalakkan di kalangan masyarat daripada sekedar upaya yang dikemukakan oleh ibu menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi agar mempermudah akses bagi remaja untuk mendapatkan kondom supaya remaja tidak mengalami hamil di usia dini dan gampang melakukan aborsi.

Kelihantannya hanya sekedar baca Alquran pada saat hamil, adzan dan iqamah pada saat lahir, dan aqiqah serta pemberian nama di hari ketujuh pasca lahir. Namun makna dasar dan mendalam pelaksanaan anjuran agama ini sangat erat dengan soal pendidikan agama bagi keluarga. Dalam QS ke 66 ayat 6 Allah SWT. Memerintahkan agar kita selalu menjaga diri kta dan keluarga dari siksa api neraka. Menjaga kelurga dari neraka oleh Ibnu Abbas ditegaskan maksudnya agar memberikan pendidikan agama sebaik dan sedini mungkin kepada keluarga. Mengapa harus suara adzan yang diperdengarkan pada telinga bayi? Bukan dengan cara memeragakan shalat misalnya di depan bayi yang baru lahir? Tentu saja dalam hal ini Nabi SAW tidak pernah salah dalam memberikan suatu perintah kepada umat. Sebab di antara panca indera bayi yang pertama kali berfungsi pada bayi tidak lain adalah telinga, baru mata dan disusul hati. Maka dari itu tidak mungkin melakukan hal lain selain terkait fungsi telinga bayi, yaitu agar mengumandangkan adzan dan iqamah.

Adzan, iqamah, dan aqiqah adalah simbol pendidikan agama bagi keluarga. Dalam Hadis di atas ditegaskan bahwa bayi yang diadzani dan diiqamati dijamin tidak akan digoda dan diganggu jin atau syetan yang oleh Rasululullah diberi nama Ummussibyan. Jin ini biasanya mengganggu anak kecil dengan indikasi tiba-tiba sang bayi bisa menangis histeris tanpa sebab, ia tiba-tiba melihat sosok tertentu yang menakutkan dan lain-lain, bahkan bisa dalam bentuk kejang-kejang dan setip. Hal ini yang pada umunya dikemukakan oleh para ulama (Baca al. Kifayatul akhyar). Dalam masalah urgensi adzan dan iqamah di telinga bayi serta aqiqah ini penulis lebih cenderung memperluas cakupan makna syetan yang disebut ummussibyan ini. Jika di zaman Nabi hanya dibatasi sebagai jin pengganggu anak-anak yang tidak tampak oleh kedua orang tuanya dan oleh orang dewasa pada umunya, ummussibyan bisa diartikan berbagai godaan duniawai yang sangat menggiurkan dan sekaligus sangat membahayakan bagi keberhasilan pendidikan dan masa depan anak, seperti narkoba dan seks bebas di kalangan remaja.

Narkoba dan seks bebas di kalangan remaja sungguh jauh lebih berbahaya daripada jin atau syetan yang disebut oleh Nabi dalam hadis di atas. Biasanya narkoba dialami oleh remaja dari kalangan keluarga berada, walaupun tidak menutup kemungkinan kelurga kurang mampu juga bisa saja ikut-ikutan mabuk temannya yang kebetulan kaya. Bahkan ada cara mabuk sederhana berupa ngoplos miras yang juga sangat berbahaya, ada pula yang hanya sekedar dengan “ngelem” yaitu mencium jenis lem tertentu hingga yang bersangkutan bisa merasa fly. Belum lagi jika dikaitkan dengan seks bebas di kalangan remaja yang memang sudah sangat marak bahkan transparan.

Seks bebas di kalangan remaja penulis sebut dengan marak dan transparan sebab penulis sebagai seorang pengajar di sebuah Perguran Tinggi Islam besar di Ciputat dan sebuah universitas terbaru dan teranyak mahasiswanya di kawasan pamulang, setiap akhir semester selalu mengadakan survey sederhana kepada seluruh mahasiswa dalam beberapa kelas. Penulis menggali informasi kepada seluruh mahasisa dan mahasiswi berbagai hal terkait seks bebas ini. Antara lain penulis tanyakan apakah di tempat kalian terjadi kasus married by accident (M.BA) atau kawin hamil? Jawaban yang diberikan oleh masing-masing mahasisiwa sungguh sangat mencengangkan! Sebab hampir seluruhnya mengatakan bahwa kasus M.BA terjadi di tempat yang bersangkutan tinggal. Bahkan tidak jarang mahasiswa yang megatakan bahwa masalah itu sudah wajar dan banyak terjadi di tempat saya pak, katanya. Hal ini menunjukkan betapa masalah seks bebas di kalangan remaja sudah sangat parah.

Pemicunya tentu saja bukan hanya satu atau dua hal, melainkan bayak faktor, mulai dari informasi pornografi dan pornoaksi, faktor pengawasan keluarga, faktor iman, faktor pergaulan dan yang paling peting adalah faktor pendidikan agama oleh keluarga. Oleh sebab itu jika kondisi seperti ini tetap dianggap sepele dan bahkan akan dipermudah dengan cara mereka diberikan kondom secara cuma-cuma oleh siapapun, terlebih jika dipelopori oleh kementerian kesehatan, penulis bisa memastikan bahwa akhlaq remaja sebagai generasi baru penerus bangsa akan semakin bobrok dan moral mereka akan semamkin rusak. Oleh sebab itu, untuk menjaga dan membentengi remaja dan masayarakat bukan dengan pembagian kondom gratis melainkan dengan sosialisasi urgensi pendidikan agama kepada setiap keluarga sejak dini bahkan sejak mereka masih dalam kandungan. Sebab dengan maraknya kasus-kasus hamil di luar nikah sebagaimana cerita mahasiswa yang penulis gali di atas, bisa dipastikan akan semakin marak dan merajalela jika pemerintah justru mendukung dengan kebijakan yang tidak tepat dan tidak mendasar. Semoga semua pihak berkenan untuk lebih mengutamakan cara-cara edukatif dalam menanggulangi berbagai problem bangsa yang sangat komplek ini!


Kanal Opini ini merupakan Media Mahasiswa. Setiap berita/opini di kanal ini menjadi tanggung jawab Penulis.