Budaya Ruwatan Jadi Pertunjukkan

Koordinator aksi, Mulyono menyiramkan air suci kepada tiga perwakilan mahasiswa dalam sesi ruwatan. (Rona/Manunggal)

CybernewsManunggal – Hari Buruh Internasional atau May Day diperingati setiap 1 Mei. Berbagai macam aksi dan pertunjukkan yang berbeda diadakan setiap tahunnya. Kesejahteraan buruh turut dituntut oleh Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) di sejumlah titik Kota Semarang. Dalam aksinya, GERAM melakukan serangkaian kegiatan diantaranya orasi dan treatikal.

Ruwatan diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari berbagai universitas di Jawa Tengah dengan membawa kendi yang berisi air suci. (Rona/Manunggal)

Di akhir treatikal terdapat ruwatan yang merupakan budaya dari Jawa Tengah. Ruwatan melibatkan sejumlah mahasiswa yang merupakan perwakilan dari beberapa universitas di Jawa Tengah. Setiap mahasiswa membawa kendi berisi air yang berasal dari tujuh mata air suci untuk dituang ke dalam kendi besar. Kemudian tiga orang perwakilan dari mahasiswa juga disiram dengan air tersebut.

Ruwatan membuktikan bahwa kita tidak terlepas dari budaya. Pertunjukkan ini sekaligus mengenalkan pada masyarakat luas tentang budaya ruwatan. “Kita pun ingin membangun dan ingin membuka ke masyarakat luas bahwa ini loh budaya kita,” kata Mulyono selaku koordinator utama lapangan.

Perwakilan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) menuangkan air suci ke dalam kendi besar. (Rona/Manunggal))

Tujuh mata air dalam ruwatan tersebut tentu memiliki makna tersendiri. Dengan ruwatan ini diharapkan ke depannya pemerintah ketika membuat kebijakan tidak merugikan kaum buruh. Hal serupa juga disampaikan oleh Iswan selaku koordinator pembantu lapangan. “Meruwat adalah adat kita untuk mengusir roh-roh jahat yang selama ini merasuki penguasa-penguasa yang ada di kita, pengusaha-pengusaha yang selama ini kebijakannya merugikan kaum buruh. Mudah-mudahan ada jalan untuk itu,” jelas Iswan. (Dyah/Manunggal)