Benarkah Jaga Jarak Membuat Hubungan Rusak?

Ilustrasi self distancing. (Foto: Akhmad Idris/Kontributor)

Kontributor Covid-19, Opini— Setiap harinya di bumi pertiwi saat ini diisi dengan bunyi-bunyi peringatan tentang Jaga Jarak dan Sayangi Diri. Pemerintah telah menimbau untuk menjaga jarak paling sedikit dua meter sebagai bentuk physical distancing dalam mengantisipasi penyebaran Covid-19. Imbauan ini memicu berbagai respon; mulai dari ketakutan, keberatan, hingga kesurupan (terbukti foto dua pocong yang menjaga portal suatu kampung yang beredar di media sosial).

Hal yang paling ditakuti dari dampak physical distancing tersebut adalah hubungan kemanusiaan yang semakin renggang. Benarkah seperti itu? Kalau menurut saya pribadi sih, justru malah sebaliknya; physical distancing akan membuat orang menyadari bahwa hubungan dekat itu penting. Mereka yang selama ini telah menyia-nyiakan waktu akan terbangun dari tidur panjangnya tentang ambisi-ambisi semu. Kesadaran itu akan menuntun mereka untuk saling menguatkan dalam kejauhan, saling mendoakan dalam ketakberdayaan, dan saling mempedulikan dalam keterasingan.

Kedekatan Tak Melulu Dilambangkan dengan Bergandengan Tangan

Banyak orang khawatir bahwa imbauan jaga jarak akan mengganggu hubungan kemanusiaan, padahal media sosial telah memberikan sebuah pelajaran berharga bahwa mereka yang dekat sebenarnya jauh dan mereka yang jauh sebenarnya dekat. Mereka yang duduk berdampingan sejatinya berada dalam dua dunia yang sangat berjauhan. Satu orang sedang tenggelam dalam dunia peperangan ala permainan digital, sedangkan satu orang lainnya sedang hanyut berseluncur dalam rutinitas artis-artis favoritnya. Suka atau tidak, kita harus menerima bahwa zaman telah berubah. Dekat dan jauh tak lagi perihal jarak, tetapi perihal ingatan dan kepedulian. Sejauh manapun jarak antara istri dan suami, ingatan dan kepedulian merekalah yang membuat mereka berdua tetap merasa dekat.

Begitu pula cerita tentang Jaga Jarak Gegara Corona. Mereka yang kini saling berjauhan demi menjaga kesehatan, sejatinya tetap berdekatan yang terwakilkan lewat senyuman sebagai tanda kepedulian. Mereka yang kini tak lagi bisa bertemu setiap waktu, tetap bisa saling melepas rindu lewat panggilan video yang tak terbatasi ruang dan waktu. Mereka yang kini tak lagi saling mendengar kabar, akan terobati lewat chat dan status di media-media sosial yang terus menggelegar. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada dasarnya telah mencerdaskan pola pikir manusia. Manusia seharusnya lebih pandai dalam memaknai physical distancing sebagaimana kepandaian mereka dalam memaknai tragedi banjir dengan cara berselancar menggunakan papan luncur seadanya yang ditarik dengan sepeda motor.

Jaga Jarak Membuat Hati Nurani Tergerak

Jika memang jaga jarak membuat hubungan kemanusiaan rusak, maka fakta-fakta yang terjadi di masyarakat justru berbicara sebaliknya; jaga jarak telah membuat hati nurani manusia tergerak. Hal ini dapat dibuktikan dengan maraknya ajakan berdonasi sebagai wujud peduli terhadap wabah Covid-19, fenomena artis-artis yang turut berbagi masker dan hand sanitizer kepada warga, dan bantuan skala internasional seperti bantuan alat kesehatan dari perusahaan Cina untuk tenaga medis di Indonesia.

Tak hanya itu, tagar #dirumahaja juga dimanfaatkan secara jeli dan kreatif oleh Najwa Shibab dan Narasi TV untuk menggaet para musisi berbakat tanah air untuk bersama-sama menggalang dana dengan harapan dapat membantu penanganan virus corona di Indonesia. Lewat akun instagram pribadinya, Mbak Nana (sapaan akrab untuk Najwa Shihab) menuliskan sebuah caption bahwa seluruh donasi yang terhimpun akan disalurkan pada golongan yang paling rentan, seperti tenaga kesehatan dan masyarakat kecil yang mau tidak mau harus bekerja di luar rumah demi kelangsungan hidupnya.

Baiklah, sepertinya tulisan ini telah sampai di ujung simpulan. Kembali ke pertanyaan utama: Apakah ‘Jaga Jarak’ memperlebar jarak? Jawabannya adalah sama sekali tidak. Sejauh manapun jarak dibuat (mau sampai 5 kilometer sekalipun), kita akan tetap erat dan terikat.

Kontributor : Akhmad Idris
Editor : Winda N, Alfiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *