BEM Undip Belum Tentukan Sikap dalam Diskusi Pertama Terkait Isu PT Semen Indonesia

Kepala Divisi Kajian Strategis,BEM Undip Samuel Bona Tua memberikan paparan terkait pembangunan PT Semen Indonesia, pada Senin (13/4) di Ruang 101 Fakultas Psikologi Undip. (Windi/Manunggal)

Kepala Divisi Kajian Strategis,BEM Undip Samuel Bona Tua memberikan paparan terkait pembangunan PT Semen Indonesia, pada Senin (13/4) di Ruang 101 Fakultas Psikologi Undip. (Windi/Manunggal)

ManunggalCybernews-BEM Undip menggelar diskusi terkait pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di Rembang pada Senin (13/4) di Ruang 101 Fakultas Psikologi.

Kepala Divisi Kajian Strategis BEM Undip Samuel Bona Tua Rajaguguk, dalam diskusi tersebut mengatakan, pada dasarnya pembangunan pabrik ini melanggar beberapa peraturan yang berlaku.

“Ada beberapa peraturan yang dilanggar seperti Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 26 Tahun 2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah (CAT), Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 2008 tentang air tanah, Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010, dan Perda Kabupaten Rembang Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW),” ujar Samuel.

Pembangunan PT Semen Indonesia rencananya akan didirikan di desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang. Dalam jalannya diskusi, terdapat sejumlah pandangan baik dari sisi pro, kontra, maupun netral.

Ada juga beberapa mahasiswa yang mempertanyakan bagaimana sikap BEM Undip terhadap kasus pembangunan PT Semen Rembang yang disinyalir merugikan masyarakat di daerah tersebut. Kasus ini telah sampai pada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, dan hasil gugatan terhadap kasus ini akan diputuskan pada tanggal 16 April mendatang.

Ketua BEM Undip Riski Haerul Imam mengatakan, BEM Undip ingin melakukan diskusi kepada mahasiswa Undip terlebih dahulu sebelum menentukan sikap mengenai isu ini.

“Kita harus mengkaji isu tersebut dan mencari data yang valid. Dari BEM Undip sendiri lebih mengarah pada hal yang sifatnya solutif,” ujar Riski.

Diskusi ini akan dilanjutkan kembali pada hari Rabu, (15/4) dengan mendatangkan beberapa ahli seperti dalam bidang hukum, lingkungan dan geologi serta elemen mahasiswa. (Windi/Manunggal)