Babadotan, Gulma sebagai Antiseptik

Penggilingan

Tim PKM-PE Anti Septik Alami Dari Ekstrak Daun Babadotan, sedang melakukan penggilingan daun babadotan. (Dok. Pribadi)

Susu sapi yang dihasilkan para peternak, khususnya di Kabupaten Jawa Tengah tidak jarang mendapat penolakan dari Industri Pengolahan Susu (IPS) dikarenakan kualitas yang rendah serta terdapat pencemaran bakteri yang cukup tinggi. Hal ini mengakibatkan kerugian di kalangan peternak karena susu yang tercemar bakteri akan cepat menggumpal dan mudah rusak.

Dilatarbelakangi oleh banyaknya susu sapi yang tercemar bakteri, akhirnya tim yang diketuai oleh Maphudin (Mahasiswa FPP Undip) membuat terobosan antiseptik berbahan alami dengan harga terjangkau yang dapat dimanfaatkan oleh para peternak sapi untuk meningkatkan kualitas produksi susu. Harapannya, setelah antiseptik ini dibuat, para peternak dapat memberikan antiseptik ini pada sapi yang dimiliki, sehingga menurunkan tingkat pencemaran susu sapi melalui bakteri. “Di Indonesia ini cemaran susunya tinggi, 2 juta sampai 7 juta koloni forming unit bacteri, padahal SNI-nya itu 1 juta,” Ujar Mahpudin.

Bahan dasar yang digunakan adalah Babadotan (Ageratum conyzoides) yakni tanaman liar yang kerap tumbuh di pekarangan, tepi jalan, dan tanah lapang. Keberadaan tanaman ini sering disebut gulma yang merugikan karena manfaatnya belum diketahui masyarakat umum. Namun sebenarnya, babadotan dapat dimanfaatkan sebagai antiseptik sapi perah guna meningkatkan kualitas produksi susu sapi. Babadotan dipilih sebagai bahan dasar karena mudah didapatkan dan belum pernah diolah sebagai antiseptik.

Proses pembuatan antiseptik ekstak babadotan cukup panjang. Pertama, daun babadotan dikeringkan dengan suhu 50 derajat celcius dalam waktu 24 jam. Pengeringan ini dilakukan untuk mengeluarkan zat aktif. Setelah kering, daun digiling dengan alat bernama gelinder. Setelah menjadi serbuk, daun babadotan direndam dengan pelarut organik bernama etanol 96% dan dibiarkan selama 24 jam. Tahap selanjutnya adalah penyaringan untuk mengambil cairannya. Cairan tersebut dimasukkan ke dalam mesin bernama evaporator untuk memisahkan larutan etanol dengan ekstrak babadotan kemudian diencerkan dan dikonsentrasikan 5%,10%, 15% , dan terakhir dikemas.

Antiseptik ekstrak babadotan ini sangat mudah digunakan, peternak sapi cukup menuangkan cairan antiseptik tersebut pada tutup botol kemudian celupkan puting sapi selama 10 detik.

Kendala yang dihadapi tim ini adalah keterbatasan alat evaporator yang tersedia, karena mesin evaporator yang tersedia di Undip yaitu di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) serta Lab Terpadu mengalami kerusakan sehingga tim ini harus meminjam evaporator ke Universitas Gadjah Mada.

Tim berharap agar Undip menyediakan alat yang memadai guna mendukung pelaksanaan program penelitian yang dilakukan mahasiswa. (Adi, Didah/Manunggal)