Antara Sirkus dan Pohon Delima

(Dok.Istimewa)

Judul Buku: Sirkus Pohon

Penulis: Andrea Hirata

Tahun Terbit: 2017

Penerbit: Bentang

Tebal: 383 halaman

 

Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta. Begitulah yang disampaikan Andrea Hirata dalam buku kesepuluhnya yang terbit pada tahun 2017, sebelum mulai memasuki bab demi bab cerita. Masih dengan kepiawaian gaya bercerita ala Melayu milik sang penulis, buku ini menawarkan balutan kisah yang memiliki satu benang merah: sirkus.

Adalah Hob, seorang pekerja serabutan di pasar yang mengawali kisah enam babak ini. Hob selalu dijadikan sasaran kemarahan adiknya, Azizah, karena tak mampu membantu ekonomi keluarga yang carut-marut. Azizah bersikeras bahwa lelaki itu seharusnya punya pekerjaan tetap yang berwibawa, dengan jam kerja, tas kerja, dan seragam yang dipakainya. Hob tidak demikian. Malahan, ia dekat dengan seorang pencuri yang selalu bikin geger. Suatu kali, keinginan si adik terkabul, Hob diterima bekerja di sebuah sirkus—jadi pekerja tetap, punya jam kerja, dan seragam—sebagai badut! Hob sangat menyukai pekerjaannya, apalagi ia semakin mantap untuk segera melamar gadis yang disukainya, Dinda.

Sirkus Keliling Blasia namanya. Itu adalah sirkus keliling milik Tara dan ibunya, yang mulai dirintis kembali setelah vakum. Kisah Tara diawali dari masa kecilnya, saat ayah ibunya bercerai, dan ia menunggu pengadilan di taman. Seorang anak lelaki membelanya saat anak lain mengganggunya, dan hal itu mendekam kuat dalam ingatan Tara. Bertahun-tahun ia mencarinya, selama itu pula ia gagal. Di sisi lain, anak lelaki itu juga kian bertambah dewasa. Ia adalah Tegar, yang telah menjelma menjadi tulang punggung keluarga. Sekian tahun pencarian satu sama lain, mereka sepenuhnya disatukan ketika Tegar melamar menjadi pemain akrobat Sirkus Keliling Blasia.

Namun, ternyata, kehidupan para tokoh tak semudah itu. Masalah Hob dimulai dari tingkah laku Dinda yang berubah drastis menjadi diam seribu bahasa dan misterius setelah sempat hilang. Orang-orang bilang, itu gara-gara si pohon delima. Wujud ujian dari Tuhan ternyata belum selesai: Sirkus Keliling Blasia harus ditutup! Tara dan ibunya terpaksa melakukannya karena permasalahan hutang mantan suami Ibu Bos dengan seorang bernama Gastori.

Sirkus Pohon adalah pilihan yang menarik untuk dibaca. Kisahnya akan memukau pembaca untuk segera membalik lembar demi lembar buku ini, karena rasa penasaran yang begitu menggeliat. Tentang Hob dan keluarganya, Hob dan Dinda, Tara dan Tegar, pun tentang orang-orang di sekitar mereka—Taripol si penipu, Gastori, Debuludin, Soridin Kebul, bahkan seorang gendut bertopi fedora yang mencurigakan. Apakah buku ini “sebatas” pada apa yang saya paparkan di atas? Tidak, karena buku ini penuh kejutan bahkan sampai halaman terakhirnya. Impian menjadi hal yang masih disoroti Andrea Hirata, tetapi pemilihan kepala desa dalam buku ini menjadi citra fenomena politik di masyarakat sesungguhnya. Segala intrik dalam buku ini adalah hal yang akan membuat kalian sulit berhenti membaca.

Namun, buku ini konon merupakan trilogi. Jangan heran jika nantinya pembaca dibuat bertanya-tanya mengenai kelanjutan cerita yang agak mengambang ini. Alur yang maju mundur barangkali juga akan membuat sebagian pembaca bingung.

Yang jelas, saya suka sekali moto hidup Hob, tokoh favorit yang memiliki ketulusan hati berlimpah. Bangun pagi, let’s go! (Ayu/Manunggal)