Aliansi Barisan Kesetaraan : Aku, Kamu, Lawan Kekerasan Seksual!

Suara Mahasiswa Budaya FIB, elemen mahasiswa di Universitas Diponegoro dan universitas lainnya yang tergabung dalam Aliansi Barisan Kesetaraan (ABK) menyerukan aksi melawan maraknya pelecehan seksual di lingkungan kampus pada Kamis (4/4), di Bundaran Universitas Diponegoro, Tembalang. (Winda/Manunggal)

Manunggal Cybernews-Berkembangnya isu pelecehan seksual di lingkungan kampus khususnya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip) menyebabkan Suara Mahasiswa Budaya (SMB), elemen mahasiswa Undip dan universitas lain yang tergabung dalam Aliansi Barisan Kesetaraan (ABK) untuk melakukan Seruan Aksi dan Solidaritas melawan kekerasan dan pelecehan seksual bertempat di Bundaran Universitas Diponegoro, Tembalang pada Kamis (4/4). Aksi ini dilakukan karena sampai saat ini belum ada tindakan yang tegas kepada pelaku kekerasan seksual yang diduga adalah dosen.

Adapun tuntutan dalam aksi tersebut yaitu, pertama, memberikan sanksi yang tegas dan terbuka kepada pelaku berupa pemecatan, kebijakan fakultas dalam menyikapi kasus ini yaitu dosen pelaku tidak lagi menjadi dosen pembimbing skripsi dirasa kurang tegas. “Kampus terkesan takut untuk menjatuhkan sanksi yang tegas terhadap pelaku, jadi kami perlu menuntut” ungkap koordinator aksi, Tian Kedua, bangun solidaritas dan aksi massa untuk melawan kekerasan seksual dan berikan dukungan nyata bagi penyintas. Ketiga, ABK mendesak kampus untuk menyatakan sikap dukungan disahkannya Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) sebagai instrumen yang melindungi korban kekerasan seksual.

ABK akan terus melakukan kampanye dan memantau respon pihak kampus. Jika setelah aksi ini tidak ada mekanisme yang berpihak kepada korban maupun pelaporan yang kredibel dan transparan, maka akan dilakukan aksi dengan massa yang lebih besar. “Mungkin jika sampai nanti tidak ada mekanisme yang berpihak pada korban, kami akan melakukan aksi yang lebih besar dan akan masuk ke dalam supaya tuntutannya lebih kena kepada pemegang kebijakan” ujar Tian.

ABK mengimbau agar masyarakat kampus bersolidaritas bersama korban dan tidak takut dianggap membuat buruk nama kampus dengan menyuarakan kasus pelecehan seksual. Menurut ABK, yang membuat buruk kampus adalah pelaku, bukan orang yang melakukan aksi perlawanan. “Jangan ada paradigma bahwa orang yang melakukan aksi atau mengkampanyekan isu ini justru dianggap musuh dan mencemarkan nama kampus” jelas Tian. (Winda/Manunggal)