Aku Pulang, Buk


(Ilustrasi: dribbble.com)

“Aku pulang, Buk. Aku masih dengan tinggi badan yang sama, membawa pakaian yang sama, dan segala kesamaan yang lainnya.”

**

Hari ini merupakan hari pertama libur semester genap. Ya, aku merupakan salah satu mahasiswa yang dikategorikan baru yaitu mahasiswa semester dua. Sebagai mahasiswa yang masih menempati semester awal, katanya wajar jika sering merindukan rumah. Entah, akupun tidak tahu apa yang aku rindukan dari rumah. Padahal rumah yang dibangun kedua orang tuaku masih sama. Tembok yang sudah retak, warna cat yang sudah pudar, kerangka atap dari kayu dan pintu yang sudah lapuk di gerogoti rayap, dan kondisi jubin yang sangat kotor sekaligus retak sejak beberapa tahun terakhir. Aku sudah bertekad, aku akan merenovasi rumah ini dengan uang hasil jerih payahku sendiri. Namun ternyata takdir berkehendak lain.

Aku masih berdiri di depan gerbang menenteng tas berisi pakaian yang sama dengan pakaian yang aku bawa ketika pertama kali pindah ke kos. Kakiku terhenti ketika tiba-tiba aku teringat peristiwa malam itu. Malam sebelum aku berangkat kuliah di perguruan tinggi yang terletak di kota sebelah.

Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul 00.10 WIB, aku terbangun dari tidur yang kupaksakan karena tiba-tiba aku merasakan tubuhku hangat. Benar-benar hangat dan menenangkan. Tuhan, ibuk memelukku sambil menangis. Suara isakannya kecil dan terdengar tertahan. Ku tahu ternyata ibuk sebenarnya merasa sangat berat melepaskan aku sebagai anak satu-satunya, namun ia harus meredam egonya demi cita-citaku. Sempat aku berpikir untuk mengurungkan niat menjadi mahasiswa di universitas kota sebelah itu, namun kembali aku teringat pada janjiku. Aku bertekad, aku akan merenovasi rumah ini dengan uang hasil jerih payahku sendiri.

“Maaf, Buk. Aku belum berani mengusap air matamu dan menjanjikan sesuatu padamu. Tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan mengganti air mata kesedihanmu ini dengan air mata kebanggaan, kelak.” Batinku dalam hati. Namun sayang, ternyata takdir berkehendak lain

**

Sebulan sekali aku menyempatkan pulang ke rumah. Menemui rinduku yang aku sendiri tak tahu apa yang ku rindukan. Mungkin masakan ibuk. Mungkin omelan ibuk. Atau segala hal yang berhubungan dengan ibuk. Dan mungkin juga suasana rumah yang jauh lebih sejuk daripada tempat kosku. Baru sampai aku di beranda rumah, ibuk sudah mengomel “Ya Tuhan, kenapa sekarang kamu terlihat sangat kurus. Kamu di sana harus banyak-banyak makan. Jangan hanya memikirkan kuliah. Kesehatanmu juga dipikir dan dijaga.” Begitulah ibuk, padahal aku merasa biasa saja. Tidak ada yang berubah sedikitpun dan makanku pun teratur. Ya teratur. Setiap harinya sarapan digabung dengan makan siang. Ku kira semua mahasiswa yang ngekos juga begitu.

Saat itu adalah malam Minggu. Aku dan ibuk lebih memilih family time dengan menonton sinetron di salah satu stasiun televisi. Maklum, kamj tidak menemukan acara yang bagus untuk ditonton. Oh iya, kemana bapak?. Bapak masih bekerja, menjaga warung kopi yang ia bangun sejak sebeleum aku dilahirkan. Tiba-tiba ibuk nyeletuk “Si Gama besok nikah.”

Aku yang awalnya fokus ke televisi pun langsung memutar kepala menghadap ibuk “Iyakah? Kok cepet banget. Sama siapa? Aku dikasih undangan gak?” Eh iya, Gama adalah mantanku. Mantan pacar pertamaku, ibuku pun tahu itu. Oleh karena itu aku berani menanyakan undangan itu.

“Dia gak nyebar undangan. Karena nikahnya dadakan dan mungkin juga …. Malu, karena calon istrinya sudah hamil 6 bulan.” Seketika aku tercekat dan sangat-sangat tidak percaya. Padahal dulu dia sangat-sangat “baik” ketika masih bersamaku. Atau mungkin memang waktu dan lingkungan yang telah membawanya sampai ke tahap ini. Entahlah akupun tidak terlalu peduli sebenarnya.

“Kamu sudah gede ya, sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kamu juga sudah ibuk sekolahkan di madrasah selama 12 tahun, ibuk harap kamu bisa menjaga dirimu dengan berpegang teguh ilmu agamamu. Dan jangan lupa selalu berdoa supaya jiwa dan ragamu selalu dilindungi oleh Tuhan. Di sini ibuk dan bapak bekerja dengan sekuat tenaga, kamu di sana belajar dengan sungguh-sungguh,” Tambah ibuk sebagai kalimat penutup percakapan malam itu.

“Iya, Buk.” Aku mengiyakan. Aku sebagai anak satu-satunya tidak ingin mengecewakan ibuk, dan bapak. Namun ternyata takdir berkehendak lain.

**

Aku masih tetap berdiri di depan gerbang rumah. “Aku pulang, Buk. Aku masih dengan tinggi badan yang sama, membawa pakaian yang sama, dan segala kesamaan yang lainnya. Namun ada satu yang berbeda, berat badanku dengan sebuah janin di dalam perutku.”

 

Karya: Aslamatur Rizqiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *