Aksi Kartu Kuning untuk 150 Hari Kepemimpinan Jokowi

Kartu Kuning Jokowi

Mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan tuntutan terhadap Jokowi, dalam Aksi Kartu Kuning di depan Gedung Kantor DPRD Kota Semarang, Rabu (18/3). (Kalista/Manunggal)

ManunggalCybernews – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia Subwilayah Semarang Raya menggelar Aksi Kartu Kuning untuk memprotes kinerja kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang sudah menginjak hari ke-150. Aksi ini diikuti oleh mahasiswa Undip, Unnes, Polines, dan PGRI, di depan Gedung Kantor DPRD Kota Semarang, Rabu (18/3).

Aksi Kartu Kuning muncul sebagai reaksi kekecewaan mahasiswa terhadap sembilan Agenda Prioritas Nawa Cita yang dicetuskan oleh Jokowi. Agenda yang mencantumkan rencana perbaikan di berbagai aspek tersebut, justru mengalami keterpurukan dan tak kunjung mendapatkan realisasi dalam jangka waktu yang telah dijanjikan.

“Pada 100 hari kepemimpinan (Jokowi), kita masih melihat kondisi, apakah masih bisa memperbaiki apa nggak. Ternyata setelah dibiarkan selama 150 hari, malah semakin terpuruk, terutama dalam hal rupiah yang sangat mempengaruhi kondisi ekonomi bangsa,” kata Koordinator Aksi, Yanfa’uni Ade Pradena.

Massa yang tergabung dalam aksi ini, melayangkan tujuh tuntutan yang terbentuk dari konsolidasi bersama mahasiswa se-Semarang dan audiensi dengan masyarakat. Tujuh tuntutan tersebut antara lain, menstabilkan nilai rupiah terhadap Dollar Amerika serta menekan harga bahan pokok, mengembalikan Blok Mahakam 100% kepada bangsa dan mencabut izin PT. Freeport Indonesia, revitalisasi kebijakan maritim, mendukung upaya penegakan hukum dan menghapus remisi terhadap narapidana kasus luar biasa, melakukan pemerataan pelayanan dan tenaga medis, menerapkan kebijakan yang konkrit tentang revolusi mental pada sistem pendidikan, dan bersikap tegas dalam pemerintahan serta mengevaluasi kinerja Kabinet Kerja.

Ade mengatakan, kartu kuning yang menjadi simbol dalam aksi ini merupakan peringatan bagi Jokowi agar segera memberikan kebijakan yang solutif dalam waktu satu bulan. Massa yang lebih masif dan serempak akan kembali turun, apabila tidak ada iktikad baik dari Jokowi selama tenggat waktu tersebut.

Kalo tidak segera dalam satu bulan, atau kita biarkan berlama-lama, kita akan melihat kondisi yang lebih parah lagi. Harus segera, kita nggak tau rupiah akan turun berapa lagi. Jokowi harus segera mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang strategis,” jelas Ade.

Sebagai bentuk tindak lanjut aksi ini, mahasiswa akan berkonsolidasi dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pada Jumat (20/3). Dalam konsolidasi tersebut, mahasiswa akan memaparkan kembali tutuntan mereka agar dapat diteruskan ke pemerintah pusat.

“Ini bukan hanya harapan mahasiswa Undip dan mahasiswa Semarang, tapi juga masyarakat. Kita jangan hanya diam. Ketika pemimpin kita mengeluarkan kebijakan yang salah, maka seharusnya kita memperingatkan. Dan harapannya, ini masih kartu kuning, masih ada kesempatan Jokowi untuk memperbaiki. Kami masih berharap, Bapak Jokowi-JK masih bisa memperbaiki dan bisa bertahan selama lima tahun,” kata Ade. (Kalista/Manunggal)