Aksi BEM Undip dalam CFD Tarik Perhatian Masyarakat

IMG_0159(1)Massa yang  terdiri dari aktivis mahasiswa hadir di tengah keramaian Car Free Day (CFD) pada Minggu (15/3) di Jalan Pahlawan. Mereka mengawali aksi dengan pekikan – pekikan, dilanjutkan aksi teatrikal, dan orasi untuk memperjuangkan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). (Klaudia/Manunggal)

ManunggalCybernews- Adanya isu pendirian Trans Studio di area Wonderia dan sekitarnya, memunculkan polemik di kalangan mahasiswa. Polemik tersebut muncul, lantaran kawasan Wonderia berdekatan dengan kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. Banyak pihak tidak menginginkan penggusuran kompleks TBRS untuk mendirikan Trans Studio.

            Dinamika tersebut pun menggelitik bagi mahasiswa untuk mendiskusikan layak tidaknya penggusuran TBRS, yang merupakan pusat kesenian dan budaya di Kota Semarang. Untuk itu, Bidang Sosial-Politik BEM Undip 2015 menggelar aksi memperjuangkan TBRS dalam acara mingguan di Jalan Pahlawan, Semarang, yakni Car Free Day (CFD).

            Sekitar pukul 07.30, pada Minggu (15/3) massa aksi yang mengenakan almamater Undip datang di tengah keramaian acara CFD. Sebagian masyarakat mengarahkan perhatiannya pada massa yang datang dengan membawa bendera BEM Undip dan membentangkan spanduk bertuliskan “#SaveTBRS”.

          Aksi tersebut adalah wujud nyata dari hasil diskusi yang mereka selenggarakan pada Rabu (11/3) di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Fakultas Teknik. Dari hasil diskusi tersebut, mereka menyatakan beberapa sikap, yakni keberadaan TBRS di Semarang tetap, dalam hal ini tidak boleh digusur ataupun dipindahkan ke tempat lain. Selain itu, TBRS merupakan ikon Kota Semarang baik itu sebagai identitas bangsa yang multikultual, nilai historis perkembangan kebudayaan, seni, artistik, dan lahirnya seniman atau budayawan, serta sarana untuk menjaga nilai-nilai yang sudah mengkristal seperti pertunjukan wayang. Adapun sikap lain yang mereka nyatakan adalah pengoptimalan dan pengembangan fungsi TBRS sebagai tempat bagi aktivis budaya dalam menyalurkan kesenian dan kebudayaan Indonesia.

         Wakil Ketua BEM Undip 2015, Afandi Rahmat Aris, melalui aksi ini berharap masyarakat Semarang dapat mengerti dan memahami tentang urgensi dari penggusuran TBRS.

          “Kami ingin menyadarkan masyarakat, bahwasanya ada salah satu bangunan budaya yang ingin digusur oleh Pemerintah Kota Semarang,” ungkap Fandi.

          Afandi menjelaskan apabila TBRS digusur, warga Semarang tidak dapat menikmati pertunjukan wayang dari para seniman. Dengan kata lain, kebudayaan yang menjadi identitas suatu daerah akan hilang. Lebih lanjut, dia mengatakan pembangun TBRS akan menyebabkan kemacetan yang luar biasa dan mengakibatkan aliran air terhambat.

        Beberapa masyarakat di lokasi CFD menyaksikan aksi teatrikal dan orasi dari mahasiswa. Mereka turut berpartisipasi dengan membubuhkan tanda tangan pada spanduk yang diletakan di jalan.

          Salah satu pengunjung, Ratih Chani mengatakan setuju dengan adanya aksi yang dilakukan oleh mahasiswa. Menurutnya, TBRS memiliki nilai sejarah yang tidak bisa dihilangkan begitu saja.

          “Udah lama ya mbak (keberadaan) Taman Budaya (Raden) Saleh di sana. Saya juga sering kesana. Saya juga tidak setuju kalau TBRS digusur untuk mendirikan Trans Studio,” kata Ratih. (Klaudia/Manunggal)