Adakan Aksi Lanjutan, Massa Kembali Ditolak dan Diancam Kampus Sendiri

Penggambaran matinya demokrasi di Undip diungkapkan dalam potret seperti di atas, (Senin, 27/7). (Foto: Manunggal).

Warta Utama— Terhitung untuk kali kedua aksi mahasiswa yang dinaungi oleh Aliansi Suara Undip (ASU) kembali digelar. Walaupun bukan untuk yang pertama kalinya, massa aksi lagi-lagi ditahan untuk masuk. Aksi yang dilaksanakan pada Senin (27/7) itu terlaksana secara damai sama seperti sebelumnya. Namun, sikap yang diambil oleh pihak kampus tetap sama, yakni menolak untuk didatangi. Hal ini terbukti dengan hadirnya banyak petugas keamanan baik dari pihak kampus dan juga polisi yang berjaga ketat di area gerbang utama Undip.

Aksi ini merupakan tindak lanjut dari yang sebelumnya sudah dilaksanakan pada Kamis (16/7) dimana saat itu Tujuh Tuntutan Mahasiswa (Tugu Masa) hanya sampai ke ajudan rektor sebagai perwakilan. Selain itu, juga diadakan konsolidasi terbuka kembali seminggu sesaat sebeum diadakannya aksi.

Jumlah massa aksi terlihat berkurang jika dibandingkan dengan aksi sebelumnya. Meski begitu, jumlah massa tidak menjadikan semangat mahasiswa surut dalam menyuarakan suaranya yang ingin didengar.

“Kita dari awal memang secara kuantitas massa yang ada itu mulai berkurang. Besar kemungkinan dan kita bisa pastikan itu karena adanya tindakan represif. Jadi anak-anak mahasiswa yang melakukan aksi kemarin itu dipanggilin ke dekanat, ke birokrasi” ujar Humas ASU ketika ditemui pada Senin (27/7).

Selain ditolak masuk ke kampus sendiri, mahasiswa yang tergabung dalam grup Microsoft Teams juga mendapatkan ancaman dari pihak kampus secara langsung. Dijelaskan oleh Humas ASU, pemanggilan yang dilakukan pihak kampus dinilai tidak jelas  dan mereka yang tertuduh pun diharuskan membuat surat pernyataan. Surat itu berisikan pernyataan diri  bahwa yang bersangkutan tidak akan mengikuti aksi lanjutan dengan konsekuensi yang harus diterima oleh mahasiswa yang dipanggil.

“Bahkan ada surat pernyataan yang berisi untuk tidak mengikuti aksi selanjutnya. Itu kan sudah bentuk-bentuk yang membunuh demokrasi. Makanya kita disini menuliskan selamat datang di kampus yang demokrasinya sudah hilang” tambah Humas ASU dalam penjelasnnya.

Meski massa aksi ditolak dan mendapat ancaman dari pihak kampus, mereka tetap bertahan di depan gerbang Undip sampai malam hari. Sebagai penutupan, massa aksi menggelar treatikal di pelataran gerbang Undip sebagai penggambaran dari kondisi mahasiswa terdampak ekonomi karena pandemi dengan kebijakan kampus yang dinilai tidak tepat.

“Sudah dipersiapkan juga bisa diliat kita akan berduka bersama disini melihat kampus ini sudah mulai mati demokrasinya. Bisa dikatakan sudah mati bahkan” tutup Humas ASU di sesi wawancara.

Reporter: Dyah Satiti, Sofatun

Penulis: Dyah Satiti

Editor: Alfiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *