Aab-Ibad: Simponi Karya

 

Sejak kapan Anda berniat mendaftar jadi ketua BEM Undip?

(Aab): Saat semester 3, saya melihat di FEB ada aklamasi. Di saat itu saya sudah ikut LKMM Madya. Saya melihat kurang kepekaan dan perhatian dari kakak tingkat saya mengenai politik kampus. Menurut saya, itu adalah hal yang salah, karena mereka sudah ditempa dan didik di LKMM. Berawal dari keresahan tersebut, saya yang mahasiswa semester 5 harus bergerak dan gagasan dan berkat dukungan teman teman seangkatan saya memberanikan diri untuk maju sebagai ketua BEM 2018.

 

Apakah ada program baru yang akan diterapkan pada BEM Undip mendatang jika terpilih?

(Aab): Ada enam program unggulan dari BEM yaitu Super Data. Super Data ada data referensi untuk bergerak. Tujuannya agar aspirasi-aspirasi mahasiswa tidak didiamkan. Kedua adalah Simfoni Green Habit, dimana kami ingin menggerakan go green di Undip. Ketiga adalah Simfoni Undip, bedah kampusnya Undip yaitu mengundang siswa SMA ke Undip untuk mengenalkan dunia kampus di Undip. Keempat adalah Kampung Simfoni, program ini sebelumnya sudah ada di kepengurusan di tahun 2017. Kami ingin melanjutkan program tersebut karena telah terjalin kerjasama dengan desa binaan dengan program-program dari fakultas. Selanjutnya adalah Undip Information Center, di mana akan ada website untuk menghimpun informasi dan akan terintegrasi dengan Complain Center dan data prestasi. Program terakhir adalah  Diponegoro Art Competition, yang akan dimaksimalkan kembali untuk mengembangkan bakat-bakat mahasiswa untuk menyiapkan di tingkat nasional.

 

Bagaimana jika program kerja tidak terlaksana dan visi misi tidak tercapai?

(Aab): Saya yakin akan terlaksana karena visi, misi, dan program kerja dirancang dan dianalisis secara matang dengan mempertimbangakan sumber daya yang dimiliki, output dan outcome.

 

Apa yang membedakan kalian dengam paslon nomor 1?

(Aab): Kami mengusung simfoni karya. Tujuannya untuk mewujudkan harmonis untuk bergerak bersama di kancah nasional. Mengoordinasikan seluruh BEM fakultas di Undip untuk bergerak bersama dimana mengawal isu bersama.

 

Mengapa Anda menganggap diri Anda layak untuk memimpin BEM Undip selanjutnya?

(Aab): Pertama karena orang tua telah mendukung dan mengijinkan. Saya juga mendapat dukungan dari temen-temen, organisasi saya yang telah saya ikuti.

 

Hal pertama apa yang Anda lakukan ketika terpilih menjadi Ketua BEM Undip 2018?

(Aab): Saya akan mengucapkan selamat ke teman-teman saya secara langsung yang terpilih menjadi pemimpin di fakultas, karena tujuannya agar ada interaksi langsung.

 

Menurut kalian, apa isu di kampus dan nasional yang paling penting untuk dikawal saat ini?

(Aab): Isu kampus yang sangat  penting dikawal saat ini adalah isu pendidikan, terkait keputusan SPI atau isu-isu yang berkaitan dengan pendidikan. Isu nasional adalah isu maritim, karena Undip adalah universitas riset maritim, selanjutnya adalah karena didukung oleh kajian dari sivitas dan pakar-pakar atau sumber daya yang dimiliki.

 

Bagaimana kalian bisa berpasangan ?

(Ibad): Memang sudah kenal sejak masuk kuliah. Aab memang tipikal orang yang visioner, memiliki jiwa memimpin. Dia memang sudah punya niatan  mau mencalonkan diri untuk menjadi ketua BEM 2018, tetapi belum menemukan wakilnya. Saya sebenarnya tidak terlalu mengikuti informasi tersebut mengenai pemira ini, karena pada dasarnya saya lebih aktif di bidang kerisetan.  Seminggu sebelum pendaftaran di Panlih, dia menemui saya dan mengajak untuk mencalonkan diri. Setelah ditawari, dan mengobrol banyak tentang visi misi yang sama dan memiliki chemistry juga, akhirnya saya mengiyakan untuk menjadi wakilnya.

 

Bagaimana kalian menyakinkan mahasiswa untuk memilih kalian?

(Ibad): Kedekatan kita berdua, diharapkan bisa menyakinkan mahasiswa untuk memilih kami sebagai Ketua dan Wakil Ketua BEM 2018. Selain itu dari visi dan misi dari kami berdua kami tak hanya berfokus pada event saja, tetapi kami ingin mengubah paradigma mahasiswa. Jika organisasi mahasiswa tak hanya sebagai event organizer tetapi sebagai wadah pergerakan. Dari kami berharap BEM Undip dapat menghidupkan jiwa-jiwa pergerakan dan merangkul semua golongan.

 

Bagaimana tanggapan Anda mengenai mahasiswa yang apatis, terlebih pada Pemira tahun ini?

(Ibad): Mahasiswa Undip yang jumlahnya sekitar 40ribu, di tahun lalu hanya sekitar 11ribuan yang ikut dalam Pemira tahun lalu. Setelah dibicarakan ternyata banyak wadah pengembangan potensi mahasiswa yang belum termaksimalkan. Maka dari itu kami ingin merangkul dan memperhatikan UKM-UKM yang dapat mewadahi potensi dan minat mahasiswa.

 

Bagaimana jika kalian kalah dalam Pemira tahun ini?

(Ibad): Kalah menang itu biasa. Aku menganggapnya bukan kompetisi, ini adalah sebuah kesempatan untuk menyampaikan ide dan gagasan yang dimiliki. Hidup akan terus berjalan, dan harus tetap bergerak. Nantinya kami akan mendukung paslon yang menang, kami akan mendukung program kerja, dan memberi masukan. Meskipun tidak masuk dalam kepengurusan, tetapi kita dapat bertemu di forum untuk saling berdiskusi. Setidaknya tetap memberikan sumbangsih berupa pemikiran.

 

Bagaimana pendapat Anda mengenai unit usaha Undip?

(Ibad): Undip memiliki PT Undip Maju. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa tidak main–main. Kami akan mengembangkan agar penelitian undip tidak sekedar mendapat dana, tapi dapat mendatangkan royalti. Sumber pemasukan dari Undip ini diharapkan  difokuskan juga pada bidang riset tidak hanya pada bidanng usaha.

 

Bagaimana kalian memunculkan iklim diskusi di ranah universitas?

(Ibad): Kendalanya adalah minimnya pelibatan dari BEM fakultas. Simpul masa adalah di fakultas. Ketika BEM Undip bergerak sendiri, yang terjadi seperti sekarang minimnya kontribusi dari teman-teman di fakultas, inilah yang harus diperbaiki. Pelibatan BEM fakultas dari pengambilan keputusan, menentukan arah gerak, menentukan isu yang akan dikaji, pengkajian isu. Selain itu juga memaksimalkan fungsi dari komting angkatan untuk ikut berkontribusi dalam ranah diskusi di tingkat universitas.

 

Bagaimana cara untuk mengangani mahasiswa yang tidak peduli dengan isu kampus?

(Ibad): Tidak semua mahasiswa setuju terhadap suatu isu. Kami juga tidak dapat memaksakan. Pengoptimalan mahasiswa dapat dimulai dari komting angkatan. Harapannya adalah isu-isu yang ada dapat tersampaikan, sehingga mahasiswa yang sebenarnya kritis, karena kurang tersampainya informasi tidak dapat terwadahi. Kami akan mengoptimalkan pelibatan dengan komting angkatan.