The Platform: Film yang Mengkritisi Dunia Saat Ini

Poster The Platform (sumber: imdb.com)

Tidak banyak orang yang bisa menikmati film bergenre thriller. Selain karena kengerian yang sudah menjadi santapan wajib, tak jarang genre ini menuntut penontonnya untuk berpikir di tengah suguhan adegan yang membuat badan bergidik. Tapi, jika kalian adalah salah sedikit orang yang menyukai genre tersebut, maka kalian sudah di tempat yang tepat, hehe.

***

The Platform. Sejak awal perilisannya pada 21 Februari 2020, film ini sudah masuk kedalam watch list yang saya buat. Selain karena ulasan yang muncul dimana-mana, ratingnya pun juga lumayan menjanjikan. Keduanya memaksa saya untuk tidak bisa menghiraukan untuk menekan tombol “add to my list” ketika pertama kali mengklik film tersebut di Netflix.

Setelah hampir dua minggu The Platform mendiami watch list dan menunggu antrean untuk ditonton, akhirnya selesai sudah saya menamatkan film tersebut. Dan wow, memang film tersebut selayak itu untuk ditonton. Saya katakan layak karena materi dan pesan yang sang sutradara, Galder Gaztelu-Urrutia, begitu kuat mengajak penonton berpikir dan berkaca, bukan menggurui.

Sinopsis The Platform

Bermula dengan Goreng (Iván Massagué) sang tokoh utama, terbangun dalam ruangan sel penjara bersama Trimagasi (Zorion Eguileor), lelaki paruh baya teman satu selnya saat itu. Sel tersebut berdinding beton dengan angka 48 menandai di mana lantai mereka berada. Trimagasi menjelaskan pada Goreng bahwa penjara dengan model menara tersebut tiap harinya menyajikan makanan yang dikirim melalui platform yang bergerak dari atas ke bawah melalui lubang besar di lantai dan langit-langit.

Pada lantai teratas, pengelola penjara memiliki kuasa untuk menyajikan makanan. Kemudian makanan turun melalui platform dari lantai 1 (paling atas) hingga 333 (paling bawah). Konon, makanan yang disajikan cukup untuk dikonsumsi seluruh tahanan. Namun sayang, mereka yang menempati lantai paling atas kerap kali mengambil porsi lebih banyak. Dan ketika platform berisi makanan tersebut makin turun ke bawah hanya menyisakan remahan, bahkan kerapkali bersih tidak bersisa.

Bayangkan apa yang terjadi saat dua orang manusia terjebak tanpa makanan, apa yang terjadi?

Singkat cerita, Goreng, selain berusaha untuk bertahan hidup, Ia juga berusaha menyadarkan para narapidana yang lain untuk berusaha saling membantu agar mereka bisa bertahan hidup dan nantinya dapat melawan, serta keluar dari penjara mengerikan tersebut.

Refleksi Terhadap Kemanusiaan

Pengalaman pribadi saya menonton The Platform rasanya seperti flashback pada film Snowpiercer (2013) karya Bong Joon-ho. Pada permulaan cerita dan permukaan konflik terdapat kesamaan aspek, yaitu kesenjangan sosial, perebutan makanan, dan juga perlawanan. Namun, bukan berarti Galder asal meng-copypaste jalan cerita film terdahulunya (emangnya mahasiswa hehehe).

The Platform secara konsisten menyajikan genre thriller yang kaffah, dengan tidak menonjolkan sisi laga, tidak terlalu menggambarkan tokoh utama sebagai karakter yang heroik, dan plot serta ending yang cukup membuat kita tertegun dan berfikir. Bagi saya sendiri film ini cukup proporsional mengatakan dirinya bergenre thriller.

Film ini menunjukan pada penonton ide-ide atau gagasan tentang sifat alamiah manusia saat berada di titik terendahnya. Di sini kita disajikan pertentangan antara alturisme dan egoisme. Yang mana pada akhirnya kita ditunjukan bahwasannya tabiat asli manusia adalah mementingkan dirinya sendiri. Kalaupun alturisme itu ada, ia hanya hadir pada kondisi dan situasi yang mana si manusia tidak sedang berada di titik terendahnya. Bagaimana tidak? Sekarang mana ada orang yang konsisten memberikan charity sekalipun ia sedang tidak berkecukupan. Hal tersebut digambarkan saat Goreng dan Trimagasi terlempar dari lantai 48 ke lantai 171. Mereka yang sebelumnya cukup akrab dan saling berbagi makanan, pada lantai tersebut harus memilih: memakan atau dimakan.

Hal itu juga ditegaskan oleh Galder sendri pada wawancaranya di Digitalspy. “Film ini tidak menggambarkan seseorang sebagai yang baik atau buruk, ini tentang menanyakan apa yang akan kalian lakukan jika menemukan diri kalian di lantai 200 atau di lantai 48. Ini soal batas solidaritas kalian dan bagaimana dengan begitu mudahnya menjadi orang yang baik di lantai 10 dan sulit untuk melakukan hal yang sama ketika ada di lantai 182,” ungkapnya.

Meskipun demikian, begitulah insting bertahan hidup manusia. Aristoteles sendiri pernah mengatakan bahwa manusia adalah hewan yang berpikir. Dan Galder, dengan filmnya ini menyadarkan kembali sisi gelap kita sebagai manusia.

Abadinya Kapitalisme dan Utopisnya Sosialisme

Selain berbicara tentang kemanusiaaan, yang tampak juga pada film The Paltform ini adalah kritik terhadap sistem kapitalisme. Sebagaimana kita tahu mayoritas ekonomi dunia di dominasi oleh sistem tersebut. Pun dalam film ini mereka yang berada di lantai atas mendapatkan makanan yang masih segar, fresh dan layak menggambarkan mereka yang kelas sosialnya tinggi pastilah memiliki kesempatan hidup enak lebih mudah dibandingkan kelas sosial yang rendah.

Meskipun demikian, Galder pun tidak serta merta mengatakan bahwa semua akan lebih indah di bawah naungan sosialisme, lalu film berakhir dengan bahagia. Tidak. Pada salah satu babak, Goreng dan Barahat mencoba mempraktikan sosialisme (itu pun saat mereka berada di lantai 6) dengan mencoba meyakinkan narapidana lain untuk menyisihkan makanan agar yang lainnya mendapat bagian. Yang terjadi mereka mendapatkan perlawanan dari narapidana lain, bahkan sampai harus membunuhnya.

Di titik tersebut saya sendiri tertegun, antara pahitnya hidup dibawah naungan kapitalisme, lalu perjuangan melawan kapitalisme yang justru mendapatkan banyak perlawan, hingga benar-benar utopisnya sistem sosialisme itu sendiri.

Pada sisi ini, The Platform memang seakan-akan menjadi film yang bertendensi pada politik di dunia. Namun, Galder tidak berpikir demikian. Dengan cerita yang telah digambarkan dalam sinopsis singkat diatas, film ini bukannya mengkritik dunia dalam satu perspektif dan juga satu ranah saja. Cerita yang dibuat sedemikian rupa membuat penonton bebas menerka-nerka, dan memilih pesan-moral versi mereka sendiri.

“Pada akhirnya, film ini tidak akan mengubah dunia, tapi mungkin akan mengubah penontonnya,” ungkap Galder.

Penulis: Alfiansyah (S1 Sastra Indonesia 2017 – Manunggal)
Editor: Winda N.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *